Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Pendeta Eka Darmaputera Meninggal Dunia, Umat Kristiani & Kalangan Gereja Berduka


Posted: Jun. 30, 2005 00:55:26 WIB
pendeta-eka-darmaputera-meninggal-dunia-umat-kristiani-kalangan-gereja-berduka

(Suara Pembaruan)

Berita duka menimpa kalangan gereja dan umat Kristen Indonesia yang kehilangan seorang tokoh dengan komitmen kuat terhadap gerakan persatuan dan persaudaraan antarumat Tuhan dengan tutup usianya Eka Darmaputera. Rencananya jenazah Eka dibawa ke GKI Jl Bekasi Timur, Jakarta Timur pukul 12.00, Suara Pembaruan memberitakan.

Eka bukan sekadar tokoh oikumenis milik umat Kristen tetapi tokoh yang meletakkaan dasar bagaimana gereja di Indonesia harus berdiri di tengah pusaran zaman.

"Saya kagum dengan konsistensi serta kecerdasan beliau dalam menyikapi seluruh fenomena sosial dan kemasyarakatan yang terjadi dan dikaitkan dengan iman seorang Kristen ideal. Meskipun dia masih sakit, namun beliau tetap bersemangat menyuarakan persuadaraan dan kasih bagi Indonesia. Dia ingin mengajak seluruh umat beragama di Indonesia hidup secara harmoni dan rukun," ujar rohaniwan Katolik, Romo Hariyanto SJ, teman dialog Eka.

Menurut dia, keteladanan yang dibagikan Eka kepada generasi penerusnya adalah keteguhan hati, kejujuran dan semangatnya yang ingin membagikan kasih Allah serta membangun tali persaudaraan dan kebersamaan di antara seluruh umat beragama di Indonesia.

Sementara itu, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dalam pernyataan sikapnya yang disampaikan oleh Wakil Sekretaris Umum Wienata Sairin mengatakan, geraja dan umat Kristen di Indonesia kehilangan figur yang punya komitmen kuat terhadap gerakan oikumene.

Eka Darmaputera dilahirkan di Mertoyudan, Magelang, 16 November 1942, dengan nama The Oen Hien. Menyelesaikan pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di kota kelahirannya, ia kemudian masuk Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta, mengesampingkan keinginannya masuk Akademi Militer Nasional (AMN, sekarang Akabri). Ia lulus pada 1966.

"Ia memang sahabat yang cerdas, pandai, dan lulus cum laude," kata Pdt Hamakonda, yang pernah tinggal satu kamar di asrama dengan Eka semasa di STT, dalam Malam Doa bersama Pendeta Eka Darmaputera di GKI Kebayoran Baru, Rabu, 9 Maret.

Banyak orang mengenangnya sebagai penulis yang baik, termasuk Hamakonda, yang mengenang Eka sebagai pencinta puisi.

Eka memang sudah menulis puisi sejak SMP. Kegemaran itu mengantarnya menjadi penulis yang baik. Tulisannya, yang tersebar di media massa maupun buku, enak dibaca.

"Tulisan-tulisan, kotbah dan ceramahnya menunjukkan betapa peka hatinya terhadap masalah-masalah iman, khususnya dalam hubungannya dengan persoalan-persoalan etika, pribadi maupun sosial. Kata-kata dan tulisannya sangat tajam dan menarik, memberikan ide-ide yang jernih dan menarik. Gaya bahasanya, sederhana tetapi sangat komunikatif dan menyentuh hati," kata Sutarno.

Sejak di STT pula ia aktif berorganisasi. Ia menjadi pengurus pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, sekaligus menjadi pengurus di Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia. Sutarno mengakui, Eka yang juga adik kelasnya waktu kuliah di STT Jakarta, sangat peduli terhadap masalah kemasyarakatan.

"Hal itu sudah terlihat sejak masa mudanya yang rajin berkecimpung di organisasi-organisasi kepemudaan dan memberikan pemikiran-pemikiran yang sangat kreatif dan konstruktif," ujarnya.

Lulus dari STT ia mengajar di almamaternya. Pada 1977 ia memperdalam teologi di Boston College, Boston, Massachusetts, AS, dan meraih gelar doktornya pada 1982, dengan disertasi berjudul Pancasila and the Search for Identity and Modernity in Indonesian Society: An Ethical and Cultural Analysis. "Sudah jadi doktor pun ia tak berubah. Tetap rendah hati. Ketika saya singgung masalah itu, ia hanya mengatakan, 'semua orang, termasuk kamu, juga bisa'," Hamakonda melanjutkan kenangannya.

Pengalaman berorganisasi semasa mahasiswa mengantarnya masuk menjadi anggota Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (1984-1989). "Eka sungguh sahabat yang suka memperhatikan orang lain, yang mendorong orang untuk lebih maju," kata Hamakonda. Eka mengatakan salah kalau memang salah, dan benar kalau benar. Sifat itu pula, menurut Hamakonda, tak dimungkiri, sering membuat orang sakit hati mendengar ucapannya, "He is a great speaker. He is a great preacher." Dan, ia tak tergantikan, kata Pdt Dr Albertus Patty, salah satu anak didiknya. Dr Sutarno, mengatakan, gereja dan umat Kristiani merasa kehilangan seorang pemikir dan gembala iman yang sangat baik.

Next Story : Perempuan Iran yang Pindah Agama Didakwa Murtad, Menyebarkan Ke-Kristenan

Terpopuler

Headlines Hari ini