Komunitas Amish Ampuni Pelaku Penembakan Lima Siswi
Maria Mackay Reporter Christian Today
Posted: Oct. 06, 2006 19:57:58 WIB
Anggota dari komunitas Amish dimana lima siswi ditembak mati oleh seorang pria bersenjata yang dipenuhi kebencian dan duka atas beberapa kejadian dalam hidupnya telah menekankan perlunya pengampunan, bukan amarah.
Komunitas Amish berduka setelah seorang pria bersenjata membunuh lima gadis sekolah dalam sebuah penembakan brutal di sebuah sekolah telah menekankan perlunya pengampunan seiring para detektif terus menyelidiki motif dari pembunuhan tersebut.
Para anggota dari komunitas damai-kasih Amsih di sekitar Nickel Mines di Desa Lancaster, Pennsylvania, dimana penembakan terjadi Senin lalu, mengatakan bahwa mereka berduka dan kecewa tapi bukan marah.
"Cara pikir kami tidak seperti itu. Tidak masuk akan menjadi marah," kata Henry Fisher, usia 62 tahun, yang telah pensiun sebagai petani dengan lima orang anak dan 33 cucu yang telah menjalani hidupnya di kota tersebut sekitar 60 mil bagian barat Philadelphia.
Ia mengatakan gaya hidup Amish yang tidak menggunakan mobil, televisi atau kartu kredit, adalah "hidup yang lebih damai...untuk menjaga generasi selanjutnya menjalani hidup yang lebih rendah hati."
Ia juga mengatakan ia tidak mengharapkan keamanan tambahan seperti gembok di sekolah-sekolah karena hal tersebut hanyalah "musibah yang tidak biasanya."
Fran Beiler, 66 tahun, dari Nickel Mines, "Komunitas ini percaya. Mereka tidak mengharapkan seseorang datang di depan pintu dan mulai menembak."
"Kami ingin mengampuni,” katanya. “Seperti inilah cara kami dibesarkan.”
“Saya pikir anak-anak yang kembali ke sekolah akan menghadapi saat yang sulit tapi saya pikir bahwa gereja secara keseluruhan akan sangat mendukung dan saya berpikir mereka dapat mengatasi hal tersebut," kata satu anggota dari komunitas, Jack Meyer, kepada Reuters.
Anggota lainnya mengatakan kepada Reuters mereka percaya bahwa para penatua Amish akan menjangkau keluarga si penembak dalam usahanya untuk membantu pemulihan komunitas dan bergerak maju ke depan.
Komunitas Amish menyerukan doa mengikuti tragedi ini, juga bagi istri si pembunuh, Marie Roberts, yang masih dalam kondisi terguncang setelah kejahatan mengerikan yang dilakukan suaminya, Charles Carl Roberts.
Sekarang polisi percaya bahwa motif pembunuhan Charles Robert adalah karena peristiwa kehilangan bayi perempuannya sembilan tahun lalu, sementara pengakuannya pada istrinya lewat telepon sesaat sebelum penembakan adalah bahwa penganiayaan yang dilakukannya atas dua anggota muda keluarganya 20 tahun lalu mendorong motifnya.
Catatan bunuh dirinya berisi: “Aku dipenuhi banyak kebencian, benci terhadap diriku sendiri dan benci kepada Tuhan dan kehampaan yang tak terbayangkan.”
Menurut petugas kepolisian Jeffrey Miller, ayah dari tiga anak dan sopir truk ini memiliki “mimpi untuk menganiaya kembali.”
Sebuah pernyataan yang disampaikan oleh janda Maria tentang suaminya: “Ia adalah seorang ayah yang luar biasa. Ia membawa anak-anak berlatih sepakbola dan permainan, bermain bola di halaman belakang dan membawa anak perempuan kami yang berusia tujuh tahun berbelanja. Ia tidak pernah berkata tidak saat saya memintanya untuk mengganti popok.
“Hati kami hancur, hidup kami berantakan dan kami berduka bagi yang tidak bersalah dan jiwa-jiwa yang hilang.
“Diatas semuanya, tolong berdoa bagi para keluarga yang kehilangan anak dan berdoa juga, bagi keluarga dan anak kami.”
Pasangan ini menikah selama 10 tahun dan memiliki tiga anak kecil.
Para korban penembakan adalah Naomi Rose Ebersole, 7; Anna Mae Stoltzfus, 12; Marian Fisher, 13; Mary Liz Miller, 8, dan adiknya Lina Miller, 7.
Para orangtua di New York dan Oregon baru-baru ini menyuarakan keberatan mereka terhadap pihak sekolah yang melarang adanya pohon Natal dan Sinterklas ...