Dublin, 22 Mei (Compass Direct)
Ketika di bulan Juli 2001 Komite Olimpiade Internasional menganugerahkan kehormatan bagi Cina untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2008, seluruh rakyat Cina luar biasa gembira. Namun event yang mestinya bisa menjadi saat-saat yang paling membanggakan bagi Cina malah menjadikan Cina sebuah ladang pemberitaan ketika corong dan satelit media dari seluruh dunia menyoroti masalah pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di negara ini.
Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah masalah kebebasan beragama, para pemerhati Cina terus melaporkan tentang pembatasan terhadap aktifitas ibadah khususnya bagi gereja-gereja rumah yang belum mendaftarkan diri pada pemerintah, penangkapan terhadap umat Kristen, dan penyitaan buku-buku rohani.
Menjadi tuan rumah pesta olahraga akbar, Olimpiade 2008 membukakan kesempatan bagi Cina untuk mempertunjukkan kehebatan pertumbuhan ekonominya. Namun dengan perkiraan jumlah setengah juta orang asing yang akan berkunjuang serta 20.000 jurnalis dari seluruh dunia yang akan meliput, pemerintah mengkhawatirkan kehadiran para aktifis hak asasi manusia dan orang-orang yang akan menentang kebijkan mereka.
Seperti yag disampaikan oleh Liu Junning dari Institusi Riset Budaya Cina baru-baru ini,”Para pemimpin di Cina ingin agar negara ini menjadi sorotan… tapi cahaya lampu sorot itu terlalu panas.”
Rakyat Cina kini dapat memilih karir mereka sendiri, mereka dapat bepergian ke luar negeri, membeli mobil dan barang mewah serta mendirikan perusahaan. Tetapi ironisnya, umat Kristen tidak dapat mengadakan ibadah secara resmi di rumah-rumah mereka, tidak dapat mengundang tamu asing dari luar negeri datang ke ibadah atau bekerjasama dengan organisasi Kristen asing. Pemerintah masih melarang pendidikan agama bagi anak-anak di bawah usia 18 tahun dan membatasi publikasi buku-buku rohani dan percetakan Alkitab.
Bagi banyak umat Kristen di Cina, mereka dapat melihat hal positif dari Olimpiade yang menyangkut kebebasan beragama, walaupun hal itu tidak banyak. Pemerintah masih melakukan aksi penutupan terhadap gereja-gereja rumah yang belum terdaftar seperti yang dilaporkan China Aid Association. Aksi ini adalah bagian dari pembersihan yang dilakukan pemerintah sehubungan dengan persiapan mereka untuk Olimpiade.
Banyak juga yang mengkhawatirkan penganiayaan terhadap umat Kristen akan meningkat setelah Olimpiade, setelah lampu sorot pemberitaan media dunia tidak lagi tertuju ke Cina. Hal yang tidak diinginkan mungkin masih akan terjadi, sumber dari CAA memperkirakan tekanan besar-besaran terhadap gereja-gereja rumah yang belum mendaftar akan terjadi dimulai 1 Juni.
Pemerintah secara resmi telah memprogramkan sebuah kampanye menentang aktifis hak asasi manusia dan terus menekan kelompok-kelompok umat beragama, khususnya jemaat dari gereja-gereja rumah yang belum terdaftar dari kelompok Gereja Protestan dan Katolik.
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.