Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Para Suster Dilarang Lakukan Karya Kerasulan Di Wilayah Pemberontak


Posted: Jul. 29, 2004 03:07:20 WIB

MANILA -- Pemerintah, militer, serta para tokoh masyarakat dan Gereja di Filipina bagian selatan meminta para suster untuk berhenti melayani sebuah komunitas masyarakat adat setelah para suster itu dituduh berhubungan secara "tidak bertanggung jawab" dengan para pemberontak komunis.

Suster Evelia Lunio mengatakan kepada UCA News dari Butuan City, Agusan Del Sur, bahwa selama tiga bulan, ia dan para suster dari Kongregasi Suster-Suster Misionaris Maria (Missionary Sisters of Mary) dilarang berada di wilayah pegunungan propinsi yang terletak di sekitar Kota Bayugan itu. Komunitas para susternya dipindahkan ke Butuan City, sekitar 820 kilometer tenggara Manila, lanjutnya.

Tanggal 13 Juli, kata Suster Lunio, pengacara Keuskupan Butuan dan para imam dari Paroki Bayugan dan Paroki Esperanza bertemu dengan para pejabat militer, walikota, para tokoh "barrio" (lingkungan), dan Datu Subang (pemimpin kelompok bersenjata "Lupaca" dari suku Manobo). Pada pertemuan itu, para pejabat itu sepakat untuk melarang para suster untuk kembali melanjutkan karya kerasulan mereka hingga 13 Oktober, kata suster itu.

Keuskupan Butuan melayani Butuan City serta Propinsi Agusan del Sur dan Propinsi Agusan del Norte di wilayah penghasil kayu terkenal di negara itu. Kedua propinsi itu juga memiliki banyak tembaga, emas, besi, timah, dan perak, serta asbes, khrom, dan batu-batuan.

Uskup Butuan Mgr Juan De Dios Pueblos mengatakan kepada UCA News, para imamnya menghadiri pertemuan itu untuk menanggapi keluhan militer bahwa para suster itu terlibat dengan New Peoples Army (NPA, Tentara Rakyat Baru), sebuah kelompok komunis, di wilayah itu.

Menurut uskup, militer melaporkan bahwa para pemberontak mengumpulkan "pajak revolusi" dari politisi demi keselamatan mereka saat berkampanye untuk pemilihan umum 10 Mei. Juga diduga bahwa NPA dilindungi di wilayah tempat para suster itu mengadakan proyek agrikultural. Menurut laporan, uskup diberitahu bahwa anggota pasukan komunis, yang memiliki banyak uang dan bersembunyi di tengah-tengah warga Suku Manobo di Bayugan, bisa merekrut lebih banyak anggota.

Pada 19 Juni, hari libur nasional, sekitar 20 pemberontak membunuh dua polisi dan mencederai dua lainnya dalam suatu perampokan di sebuah kantor polisi di kota itu. Dua komunis juga terbunuh, tapi lainnya melarikan diri dengan membawa 14 pucuk senjata polisi.

Kemudian, seorang suster dari Kongregasi Suster-Suster Misionaris Maria mendampingi ibu dari seorang pemberontak yang dibantai itu untuk meminta jenazah pejuang itu, tapi militer kemudian mengidentifikasi wanita itu sebagai anggota kelompok pemberontak, bukan ibu dari pejuang yang terbunuh itu.

Charles Anggayong, Ketua Protokol Walikota, mengatakan kepada UCA News, seorang suster mengatakan kepada walikota bahwa insiden itu merupakan suatu kekeliruan dan tak seorang pun seharusnya mati. Menurut laporan, suster itu mengatakan bahwa ini seharusnya hanya "agaw armas" (perampasan senjata), tapi polisi mulai menembak dan para pemberontak membalas tembakan itu.

Uskup Pueblos mengatakan, tanggapan semacam itu menunjukkan beberapa "sikap tidak bertanggung jawab dalam sebagian diri suster itu." Meskipun ia yakin bahwa para wanita religius itu tidak terlibat, lanjutnya, pernyataan semacam itu "menyakiti diri mereka dan para pekerja Gereja lainnya."

Uskup Pueblos menjelaskan, "siapa pun yang berkarya di perbukitan Agusan harus bertemu para pemberontak karena mereka melewati wilayah itu, tapi mereka tidak diizinkan terlibat dalam rencana atau program para pemberontak."

Menurut rencana, uskup akan menerima laporan tentang pertemuan itu, 24 Juli. Kemudian, ia akan memutuskan apa yang akan dilakukan para suster hingga 13 Oktober. Ia mengatakan, ia akan berkonsultasi dengan orang-orang Gereja, termasuk para suster itu, tentang apakah mengizinkan mereka untuk kembali ke wilayah itu atau memulai karya kerasulan baru di tempat lain.

Anggayong mengatakan, walikota mengadakan pertemuan itu 13 Juli, juga karena "masyarakat semakin marah" terhadap para suster yang dilihat memberi perlindungan kepada para pemberontak. Staf kantor walikota itu menjelaskan bahwa warga Suku Manobo telah meminta para suster itu untuk pindah dari wilayah itu. Warga suku khawatir bahwa bentrokan dengan tentara bisa meluas seperti yang terjadi 1995.

Tahun itu, militer menuduh warga Manobo di San Juan, Bayugan, bekerja sama dengan para pemberontak dan menyerang militer. Militer membom dan menembaki komunitas itu pada 18-20 Agustus 1995, yang mengakibatkan sedikitnya delapan orang tewas.

Para pengamat lingkungan dan advokat Gereja untuk hak asasi warga suku kemudian menduga bahwa serangan-serangan itu bertujuan untuk mengusir warga Suku Manobo dan kaum minoritas lainnya dari tanah leluhur mereka, yang saat itu diawasi oleh para penambang komersial dan penebang (kayu) asing. Setelah terjadi pemboman-pemboman, keluarga dari para korban diberi US$250 agar tutup mulut, demikian laporan newsletter "Sparks" edisi Agustus/Oktober 1995 dari Rural Missionaries of the Philippines.

Anggayong mengatakan, warga Suku Manobo yang tidak ingin mengenang pengalaman itu mengatakan pada pertemuan baru-baru ini bahwa mereka khawatir militer mungkin memanfaatkan para suster itu sebagai alasan untuk menyerang mereka kembali.

Suster Lunio mengatakan kepada UCA News, hadiah senjata dari militer kepada warga Suku Manobo untuk mempertahankan diri dari serangan komunis merupakan masalah besar. "Ini akan mengakibatkan banyak korban di kedua belah pihak," katanya mengingatkan. Ia mengklaim bahwa pasukan Lupaca Manobo memaafkan dan melindungi para penebang (kayu) ilegal dan perusahaan-perusahaan asing di Bayugan.

Uskup De Dios Pueblos menyampaikan keprihatinan serupa dengan suster itu. Ia mengatakan, ia telah meminta militer untuk menugaskan tentara-tentara secara reguler untuk manjaga tempat-tempat pemeriksaan penebangan ilegal, dan bukan menggunakan anggota Lupaca.

Dari 1.166.843 orang di wilayah keuskupan itu, 75 persen adalah Katolik. Sisanya adalah umat Kristen dan berbagai komunitas masyarakat adat yang tersebar di mana-mana.

Tahun 1958, Uskup Charles Van Den Ouwelant MSC, uskup pertama Butuan, mendirikan Kongregasi Suster-Suster Misionaris Maria untuk melayani kelompok-kelompok minoritas budaya dan orang sakit di wilayah itu. Saat ini terdapat 57 suster dari kongregasi itu yang sudah mengucapkan kaul kekal, 15 kaul sementara, dan 13 novis. Mereka berkarya di 11 keuskupan di Filipina dan di Papua Nugini. Lima di antaranya, yang dipimpin oleh Suster Lunio, terlibat dalam proyek agrikultural, salah satu kerasulan utama mereka di kota itu.

(UCAN)

Next Story : Mesir Keluarkan Keputusan Melarang Diskriminasi

More news in dunia

Pembangunan Gereja di Cirebon Diprotes Warga

Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.

Terpopuler

Headlines Hari ini