Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Uskup Agung Di Sidang FABC Bicara Tentang Keluarga Dan Media Kepada Wartawan


Posted: Aug. 29, 2004 00:18:53 WIB

Gereja di Asia prihatin terhadap pengaruh media massa pada keluarga dan masyarakat, kata para uskup agung dari Filipina dan Sri Lanka kepada para wartawan di sela-sela sidang agung waligereja Asia baru-baru ini.

Pada konferensi pers 19 Agustus di Daejeon (Taejon), 170 kilometer selatan Seoul, Uskup Agung Colombo (Sri Lanka) Mgr Oswald Gomis dan Uskup Agung Cotabato (Filipina) Mgr Orlando Quevedo, secara khusus menekankan tantangan menegakkan nilai-nilai keluarga di tengah budaya media yang sedemikian mengglobal.

Konferensi pers itu diselenggarakan pada hari ketiga Sidang Umum Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC, Federation of Asian Bishops' Conferences) VIII, 17-23 Agustus. Sidang itu bertama "Keluarga Asia Menuju Budaya Kehidupan."

Uskup Agung Gomis mengamati, meskipun Asia dan persoalannya itu banyak dan bervariasi, semua orang Asia menghadapi "globalisasi budaya" (cultural globalization) sebagai masalah mendasar yang umum dan fundamental. Tren ini, katanya, "agak asing bagi Asia." Dia juga mengatakan, sekularisme, materialisme, dan konsumerisme yang berasal dari (dunia) Barat merupakan persoalan-persoalan khusus.

Menurut prelatus asal Sri Lanka itu, ada "kemerosotan" nyata terhadap nilai-nilai keluarga seperti keakraban, hormat terhadap orang yang lebih tua, dan peran orang tua, baik di negara-negara yang sedang berkembang maupun yang terbelakang di Asia. Perubahan ini, menurutnya, terjadi terutama karena promosi nilai-nilai Barat secara agresif melalui media massa. "Inilah tantangan yang sedang dihadapi keluarga Asia secara umum," katanya.

Uskup Agung Quevedo mengutip "nilai-nilai baru" yang berusaha menyamakan laki-laki dan perempuan, seakan-akan tidak ada perbedaan pokok di antara mereka. Media komunikasi sosial seperti televisi, radio, dan bioskop, katanya, mempromosikan cara hidup yang berbentrokkan dengan nilai-nilai keluarga tradisional. Sebagai gambaran, katanya, beberapa bintang TV dan film yang dikenal dan diikuti kaum muda ternyata menarik perhatian dalam kehidupan nyata karena sering berganti pasangan.

Salah satu cara melawan tren ini, usul uskup agung dari Filipina itu, adalah "menginjili" komunikasi sosial yaitu dengan mendorong media massa untuk memasukkan nilai-nilai Injil ke dalam film-film dan hiburan lainnya. Ia juga mendesak orang tua untuk memantau apa yang ditonton anak-anak mereka dan membatasi film-film keras dalam keluarga.

Ia juga mengatakan, orang tua dapat membentuk "kelompok-kelompok pembelaan" yang bertugas melindungi anak-anak. Ia menegaskan bahwa kelompok-kelompok semacam itu dapat menekan produser film dan TV untuk tidak membuat program-program dan film-film keras dan provokatif secara seksual. Ia juga mencatat bahwa media Gereja dapat berupaya menginjili budaya, "sehingga keluarga dapat menonton TV atau film tanpa khawatir akan produksi visual yang keras dan provokatif."

Uskup Agung Quevedo lebih lanjut mengakui bahwa penyebaran nilai-nilai baru lewat Internet menimbulkan tantangan tersendiri, karena sulit mengontrol anak-anak untuk tidak mengakses berbagai website yang bermasalah.

Uskup Agung Gomis menekankan bahwa negara-negara Asia, walaupun ada pengaruh kuat kolonisasi ekonomi dan budaya Barat di Asia, perlu berusaha keras mengembangkan martabat mereka sendiri. Dikatakan, empat agama besar -- Buddha, Kristen, Hindu, Islam -- berasal dari Asia dan masih mempengaruhi sebagian besar dunia, maka tidak ada alasan mengapa orang Asia harus terkalahkan.

Namun dia menganjurkan agar pola negara-negara Asia yang menerima dan yang tidak menghasilkan media massa itu harus diubah. "Kita harus berusaha membuat bangsa kita tertarik dan peduli terhadap kebudayaan kita sehingga bangsa kita dapat menciptakan program-program yang lebih baik, yang dapat mempengaruhi Barat ketimbang Barat mempengaruhi kita," katanya.

Para prelatus juga bicara tentang program pastoral keluarga di negaranya masing-masing.

Uskup Agung Quevedo mengatakan, Gereja Filipina mempunyai kerasulan "keluarga dalam hidup," sebuah kerasulan keluarga yang kuat yang merupakan sebuah pendekatan pastoral "pro-life" yang secara aktif menentang kontrasepsi artifisial dan aborsi. Program itu juga, lanjutnya, membantu orang-orang yang sudah menikah untuk menjadi orang tua, suami, dan isteri yang baik. Pasangan-pasangan muda mengikuti seminar-seminar dan kursus-kursus persiapan perkawinan sebelum menikah.

Uskup Agung Gomis mengatakan, program-program kerasulan keluarga di Sri Lanka meliputi Gerakan Keluarga Kristen dari kaum awam, Marriage Encounter, dan Kerasulan Pelayan Keluarga. Kerasulan Pelayan Keluarga ini membantu keluarga-keluarga dengan programnya dan konsultan yang ahli.

Sidang umum FABC diikuti oleh 180 peserta. Mereka terdiri atas enam kardinal, 24 uskup agung, dan 56 uskup, serta klerus, awam, dan kaum religius. Delegasi yang hadir mewakili 22 negara dan kawasan Asia.

UCAN

Next Story : Mesir Keluarkan Keputusan Melarang Diskriminasi

More news in dunia

Pembangunan Gereja di Cirebon Diprotes Warga

Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.

Terpopuler

Headlines Hari ini