Dalam rangka memperingati Hari Pendididkan Nasional tanggal 2 Mei 2006, Universitas Parahyangan (Unpar) menyelenggarakan acara Ceramah dan Diskusi dengan judul "Rasio dan Iman: Pengetahuan dan Agama."
Ceramah ini disampaikan oleh Romo Fabianus S. Heatubun, Pr., Drs., LSL. Dekan Fakultas Filsafat Unpar. Acara yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam ini cukup mengundang perhatian karena tema yang aktual dan disampaikan dengan menarik.
Dalam presentasinya Romo Fabie (panggilan keseharian untuk penceramah), menanyakan ada dimanakah sebenarnya ilmuwan/ petualang ilmu berada? Menurutnya beberapa jawaban akan dapat digeneralisasikan dalam beberapa pandangan. Pandangan tersebut dapat dibagi sebagai berikut:
Yang pertama, pihak yang meyakini bahwa iman dan rasio sebagai suatu yang berlawanan dan terpisah. Seseorang hanya boleh memilih. Rasio bersifat logis, positif dan verifikatif sementara religi hanya bersifat emosional, afeksi dan devosi sehingga dianggap irasional.
Kedua, pihak yang meyakini bahwa iman dan rasio itu bukan suatu yang bertentangan tetapi suatu yang sejajar dan saling melengkapi. Iman dan rasio adalah suatu harmoni, iman bukan alternatif bagi akal, bukan either/or tetapi both/and. Hanya orang-orang yang menganut pandangan ini yang dapat menangkap afterlife sebagai kenyataan.
Ketiga, pihak yang meyakini bahwa iman lebih tinggi daripada rasio, menganggap iman pada hakekatnya 'trans-rasional', 'supra-rasional' atau para-rasional.
Keempat, pihak yang meyakini bahwa hanya iman saja yang dapat meraih pengetahuan paling sejati atau ultimate reality. Bahkan pengetahuan tentang makna terdalam dari hidup.
Atau beriman macam apa? Apakah “percaya bahwa” (fides qua, believe that); yakni seseorang percaya karena mempunyai hasil dari pengalamannya sendiri. Iman itu bersifat original (berasal dari diri sendiri) karena menyadari dengan sendirinya. Atau “percaya akan” (fides quae, believe in); yakni seseorang percaya karena adanya pengalaman-pengalaman orang lain. Sifatnya hanya mengikuti saja (blind faith). Seseorang yang fides quae tidak akan dapat diajak berdiskusi tentang keimanannya.
Lebih jauh Romo Fabie melihat bahwa “musuh” kaum intelektual adalah segala bentuk otoritarianisme, hirarkis, kekuasaan, dogmatisme dan memutlakkan kebenaran dengan mentabukan refleksi kritis. Anti otoritarianisme bagi kaum intelektual itu mendorong untuk mencari bentuk dan sumber pembenaran-pembenaran sendiri yang dianggap ultima. Kebenaran yang dianggap “sudah jadi”, objektif dan teruji dalam sejarah, digantikan berdasarkan pengalaman religius pribadi. Pada posisi seperti itu, kadang, beriman atau tidak beriman pun menjadi suatu pilihan.
Model beriman kaum intelektual saat ini adalah beragama namun enggan mengekspresikan imannya dengan upacara-upacara ritual yang sudah ada. Mereka mencari bentuk-bentuk baru yang dianggap mewakili pengalaman imannya.
Saat ini telah terjadi technolatri, yaitu pemujaan kepada teknologi. Dimana science adalah segalanya. Kualitas hidup diukur dengan kerja keras dan produktivitas. Kekaguman hanya kepada teknologi. Upacara-upacara ritual keagamaan diganti dengan penyembahan pada teknologi.
Keterbatasan ilmu pengetahuan dan sains yang membanggakan kemampuan manusia itu rupanya terbukti tidak cukup. Nilai hidup bukan diukur dengan produktivitas atau dengan ‘having’ (memiliki) dimana dampaknya dalam kehidupan sehari-hari adalah manusia jadi sangat tergantung pada teknologi. Manusia juga membutuhkan nilai-nilai yang adiluhung dan sunyata yang tidak disediakan oleh teknologi dan sains.
Pada akhir presentasinya, ia menceritakan kisah Prometheus yang masih aktual untuk didengar. Berita tentang Anthony Flew, tokoh besar dalam dunia filsafat dan ilmu, musuh besar kaum agamawan dan kaum beriman, pada usianya yang 81 tahun ia akhirnya mengakui eksistensi Allah. Flew mengakui Allah sebagai 'infinite intelligence'; ilmu, teknologi dan rasio manusia bukan segala-galanya.
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.