Agama bisa menjadi penghambat rasionalitas dan mendorong kemunduran peradaban, tetapi sebaliknya juga bisa menumbuhkan kreativitas, inovasi, dan pembaruan. Oleh karena itu, merupakan tantangan bagi umat beragama untuk menggunakan keberagamaan sebagai sumber pembaruan dan kemajuan peradaban.
Ajakan untuk menggali inspirasi kreatif dalam beragama muncul dalam dialog agama dan budaya Majelis Reboan di Jakarta, Rabu (11/10). Hadir sebagai pembicara staf pengajar Departemen Falsafah dan Agama, Universitas Paramadina, Luthfi Assyaukanie, dan staf pengajar Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Ioanes Rakhmat, Kompas memberitakan.
Menurut Luthfi, model peradaban Islam terjadi pada abad ke-3 hingga abad ke-10 Hijriah ketika nalar kreatif dan pengembangan pemikiran berkembang pesat dalam dunia Islam. Pada masa itu muncul pemikir-pemikir besar Islam.
Salah satunya adalah Ibn Rushd yang tidak hanya berpengaruh bagi dunia Islam, tetapi juga memengaruhi pemikiran di Eropa. Karya Ibn Rushd tentang dua sumber kebenaran, agama dan falsafah, memengaruhi dunia akademisi di Eropa yang sebelumnya dikontrol oleh gereja.
"Akal dan wahyu mempunyai kedudukan yang sejajar. Argumen-argumen Ibn Rushd ini dikembangkan oleh akademisi Eropa, pada masa itu, yang mau bersikap independen terhadap gereja," kata Lufhfi.
Ioanes mengakui adanya pengaruh pemikir Islam terhadap peradaban Kristen. Namun, menurut Ioanes, pemikir-pemikir besar selalu menembus ke mana-mana. Pemikir-pemikir Islam memengaruhi pemikiran Kristen, demikian juga sebaiknya. Kekristenan, ungkap Ioanes, juga sangat dipengaruhi pemikiran Yunani.
Dalam sejarah Kristen, agama pernah bersikap antipati terhadap nalar. Pemikiran-pemikiran baru, yang kemudian terbukti benar, ditolak oleh gereja. Menurut Ioanes, gerakan konservatif dan fundamentalis yang menginginkan kembali kepada kejayaan masa lalu muncul baik dalam masyarakat Kristen maupun penganut agama yang lain.
Ioanes mengajak agar kaum beragama tidak terjebak pada kerinduan untuk kembali ke masa lalu, tetapi berorientasi ke depan. "Nalar akan menjadi panduan utama dalam gerak maju ke depan," ujarnya. (Kompas)
Pemimpin Gereja Katolik Keuskupan Timika Mgr John Philip Saklil Pr memprihatinkan pendidikan anak-anak asli Papua terutama suku Kamoro di yang kurang mendapat perhatian serius orang tua dan pemda setempat. ...