Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Seminar Mengungkap Injil yang Bukan Injil


Posted: May. 24, 2008 11:44:58 WIB
seminar-mengungkap-injil-yang-bukan-injil

Prof Ben Witherington III, Ph.D. saat memberikan materi dalam seminar

seminar-mengungkap-injil-yang-bukan-injil

Peserta seminar hari kedua. (Foto: Kristiani Pos)

seminar-mengungkap-injil-yang-bukan-injil

Peserta seminar hari ke-tiga yang dihadiri oleh para pendeta dan calon pendeta mendengarkan penjelasan dari Prof. Ben Witherington III, Ph.D. (Foto: Kristiani Pos)

JAKARTA - Istilah gnostik maupun gnotisisme nampaknya bukan istilah yang mudah untuk dirumuskan. Di satu sisi istilah ini cukup umum digunakan seolah-olah istilah tersebut sudah jelas khususnya terkait dengan publikasi karya fiksi The Da Vinci Code maupun karya ilmiah seperti The Jesus Dynasti.

Pada tahun 1966, buntut dari pertemuan Berlin Codex BG 8502 (1896) dan teks-teks koptik di Nag Hammadi (1945/1946), berlangsung pertemuan di Messina yang membahas asal muasal Gnotisisme, termasuk definisi mengenai corak keagamaan tersebut.

Sekalipun demikian, Michael Allen Williams, di dalam karyanya yang berjudul Rethinking "Gnoticism" (diterbitkan 1996), menegaskan bahwa; "tidak ada konsensus mutlak bahkan diantara para ahli mengenai definisi kategori 'gnotisisme', dan hanya akan menghasilkan kebingungan yang lebih besar, itu harus diabaikan untuk sesuatu yang lebih baik" (Logan 2000, 914). William bahkan mengusulkan agar istilah gnostik dihapus dan diganti dengan istilah 'biblical demiurgical'.

Seperti apa sebenarnya status dari karya-karya kalangan gnostik dalam kontek kajian-kajian biblika kontemporer? Penelusuran ini, mulai dari kelahiran sampai status dari karya-karya mereka, dirasakan penting untuk dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang adil dan benar dalam upaya untuk terus berdialog dengan perkembangan kontemporer.

Hal ini dibahas dalam seminar "The Gnostics: Origin, Communities and Contemporary Biblical Studies", di Auditorium Menara Kebun Sirih, Senin lalu. Seminar tersebut diadakan agar para pendeta dan calon pendeta mendapat pengetahuan yang mendalam seputar dunia gnostik dan tempatnya dalam kajian-kajian biblika kontemporer, serta memampukan mereka merespon dampak dari studi-studi kontemporer di tengah-tengah kehidupan gereja.

Pembicara dalam rangkaian seminar tersebut adalah seorang pakar Interpretasi Perjanjian Baru, Prof. Ben Witherington III, Ph.D. (Asbury Theological Seminary, A.S) yang juga merupakan seorang pakar Alkitab terpandang di dunia dan anggota terpilih dari Society of New Testament Studies (SNTS), sebuah lembaga terkemuka dalam bidang studi Perjanjian Baru.

Pembahasan yang yang dikupas Witherington memberikan pengetahuan yang mendalam dan penting bagaimana injil-injil gnostik bukan injil sesungguhnya.

Gnostik adalah system kepercayaan yang muncul pada abad kedua yang dicetuskan Valentinius. Gnostik mengklaim bahwa keselamatan tergantung pada pengetahuan yang kita ketahui mengenai sesuatu yang rahasia, atau dengan kata lain usaha untuk menolong diri sendiri untuk mengetahui rahasia-rahasia itu dan percaya bahwa keselamatan diperoleh melalui pengetahuan filosofi.

Hal ini bertentangan dengan injil Kanonik yang mengklaim bahwa keselamatan diperoleh karena anugrah yang diberikan Tuhan, melalui kematian Yesus Kristus di salib. Injil Gnostik juga tidak mengakui dan memasukkan Perjanjian Lama.

Beberapa injil yang termasuk ke dalam injil Gnostik ini antara lain adalah Injil Filipus, Injil Mariam, Injil Thomas, Injil Yudas dan beberapa injil lainnya. Dalam film The Da Vinci Code karangan Dan Brown merupakan salah satu film yang dibuat berdasarkan pada injil Gnostik salah satunya mndasarkan pada injil Filipus dan Injil Mariam. Semenjak munculnya The Da Vinci Code, timbul kegelisahan di kalangan ke-Kristenan.

Witherington mengatakan bahwa injil Gnostik tidak pernah dimasukkan ke dalam injil Kanonik, jadi merupakan suatu pernyataan yang salah yang mangatakan bahwa injil gnostik dikeluarkan dari injil Kanonik karena pada kenyataannya injil gnostik tidak pernah menjadi bagian dari Kanonik sebelumnya dan bukanlah injil yang sebenarnya dan tidak diakui ke dalam Alkitab.

Seminar yang merupakan program tahunan pendalaman Alkitab dari Perkantas dengan menggandeng beberapa elemen gereja seperti PGI, PGLII, PGPI, PGTI dan The Mission dan diselenggarakan secara gratis selama 3 hari.

"Hal ini dengan tujuan agar semakin banyak orang dapat mendapatkan pembahasan yang mendalam tentang gnostik ini," ungkap ketua panitia Dr Zakheus Indrawan yang juga merupakan alumni Perkantas.

Seminar yang diadakan selama tiga hari mulai 17 Mei itu mengambil tema yang berbeda setiap harinya, dalam upaya memberikan pembelajaran bukan hanya bagi kaum pendeta dan calon pendeta, namun juga kalangan luas. Hal itu disambut antusias dengan peserta yang mencapai 1500 orang pada hari kedua dan 372 orang pada hari terakhir yang memang dikhususkan bagi para pendeta dan calon pendeta.

Penyelenggara juga memuat hasil rekaman audio serta materi yang dibahas dalam seminar tersebut yang selengkapnya dapat diunduh di www.pionkritus.com

Next Story : Mesir Keluarkan Keputusan Melarang Diskriminasi

More news in education

Pembangunan Gereja di Cirebon Diprotes Warga

Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.

Terpopuler

Headlines Hari ini