Satu orangtua yang juga ahli anak dari organisasi Care for the Family di Inggris meminta orangtua agar menerima anak-anaknya apa adanya.
Dalam edisi musim gugur majalah Family keluaran badan amal itu, Rob Parson, yang membimbing orangtua mengenai isu-isu dan tantangan yang mereka hadapi sebagai orangtua, mendesak orangtua agar menerima anak mereka apa adanya.
Parson berfokus pada satu tekanan terbesar yang dialami anak-anak di masyarakat saat ini: penampilan mereka.
"Kita semua sangat ingin diterima, dan seseorang meyakinkan kita bahwa bagaimana penampilan kita dan apa yang kita capai adalah hal-hal yang bisa membuat kita diterima," katanya.
"Salah satu tekanan terberat untuk anak-anak di masyarakat modern adalah bagimana penampilan mereka. Anak-anak tidak bodoh; mereka tahu kalau anak perempuan yang jelek tidak akan masuk sampul depan majalah remaja, dan anak laki-laki yang tidak menarik tidak akan masuk ke halaman dalamnya."
Ia juga mengekspresikan kedukaan terhadap orangtua yang menyakiti kepercayaan diri anak mereka dengan mengeluarkan komentar-komentar yang menghina - meskipun maksudnya bercanda - mengenai penampilan fisik anak mereka.
Parson menekankan kepada orangtua "entah bagaimana kita harus membuat anak-anak kita tahu bahwa kita mengasihi mereka."
Ia juga mendesak orangtua untuk merasa sensitif akan beban yang mereka dapat taruh ke anak-anak dengan mendorong pencapaian akademis.
"Salah satu ujian menjadi orangtua adalah menyeimbangkan motivasi terhadap anak-anak kita, tanpa menanamkan kepercayaan bahwa kasih kita kepada mereka tergantung dari prestasi mereka," katanya.
Parson juga mendesak orangtua "tidak menaruh mereka (anak-anak) beban menjadi seseorang yang bukan mereka."
"Tapi kita melakukan pelayanan yang mengagumkan jika kita mengirim mereka ke dunia dengan kepercayaan yang tidak tergoyahkan bahwa setidaknya ada yang mengasihi mereka, yang tidak peduli nilai mereka, gendut ataupun jenius atletik, yang selalu mengasihi dan menerima mereka tanpa syarat," kata Parson.
"Kebanyakan kita, sebagai orang dewasa, masih mencari seseorang yang bisa mengasihi kita seperti itu," katanya.
Permintaan Parson kepada para orangtua bertepatan saat pemimpin Gereja Anglikan memperingatkan adanya krisis anak-anak di Inggris saat mengungkapkan keprihatinannya akan peningkatan penyakit mental diantara anak-anak.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Uskup Canterbury Dr Rowan Williams mengatakan semakin meningkatnya penyakit mental karena anak-anak saat ini lapar akan kasih dan perhatian orangtua mereka dan tumbuh dalam iklim ketakutan.
"Ada kegelisahan luas mengenai apa yang terjadi," kata Dr Williams kepada radio BBC. "Kita harus pergi ke akar kesulitan, dan itu ... pasti berkaitan dengan budaya kita yang tidak mau membiarkan anak menjadi anak lama-lama."
Minggu kemarin The Children's Society di Inggris meluncurkan penyelidikan independen tentang hal semacam ini sebagai respon cepat terhadap keprihatinan yang dinyatakan sekelompok akademisi dan ahli-ahli anak profesional dalam sebuah surat yang mereka kirimkan kepada The Telegraph yang isinya kehidupan modern berujung pada peningkatan depresi terhadap anak-anak.
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.