Ilmu Pengetahuan, “penipuan” memicu penurunan dalam ateisme
Posted: Mar. 07, 2005 20:42:37 WIB
Kemurtadan berada dalam masalah, demikian menurut konsensus diantara para filsuf, intelektual dan cendekiawan.
”Ateisme sebagai suatu posisi teoritis ada dalam penurunan di dunia,” kata teolog Munich Wolfhart Pannenberg dalam suatu wawancara.
Alister McGrath, koleganya yang berasal dari Oxford setuju.
”Masa depan Ateisme tampaknya meningkat terletak dalam kepercayaan pribadi daripada dalam daerah publik yang dulu dianggap sebagai habitatnya,” tulis Mr. McGrath di majalah Christianity Today.
Dua perkembangan mewabahi ateisme saat ini. Yang pertama, tampaknya itu kehilangan tiang penyokong ilmu pengetahuannya. Kedua adalah pengalaman bersejarah dari ratusan juta orang di dunia yang membuat ateis tidak mempunyai posisi untuk mengklaim dasar moral yang tinggi.
Filsuf Inggris Anthony Flew yang dulunya humanis sejati, telah berbalik dari ateisme, mengatakan mustahil bagi evolusi dipertanggung-jawabkan sedang fakta bahwa satu sel saja dapat mengandung lebih banyak data dari semua volume Encyclopedia Britannica.
Flew tetap belum menerima Tuhan dari Alkitab tetapi ia merangkul konsep desain intelijen. Ini adalah suatu pembelotan menakjubkan dari seorang yang dulunya merupakan duta besar intelektual dari sekularisme humanisme menjadi percaya kepada suatu bentuk intelijen dibalik desain jagat raya.
Beberapa tahun yang lalu, ahli ilmu pengetahuan Eropa menertawakan saat penelitian-penelitian di Amerika Serikat, seperti di universitas Harvard dan Duke menunjukkan korelasi antara iman, doa dan kesembuhan dari penyakit.
Sekarang, menurut sebuah jurnal penelitian Jerman, "Psychologie Heute," 1200 penelitian di pusat riset di seluruh dunia memiliki kesimpulan serupa, menyebutkan antara lain perkembangan kentara dari para pasien dari multiple sclerosis di Distrik Ruhr, Jerman, karena “sumber-sumber spiritual.”
Persoalan Ateisme yang lain adalah tindakan tidak manusiawi dan kegilaan yang diperbuat atas namanya.
Pdt. Paul M. Zulehner, dekan sekolah divinity Universitas Vienna dan salah satu sosiologis agama yang paling terkenal mengatakan ateis di Eropa telah menjadi kelompok yang sangat kecil. “Jumlah mereka tidak cukup untuk dijadikan penelitian sosiologis,” katanya.
Akan tetapi Mr. Zulehner mengingatkan, penurunan ateisme di Eropa tidak berarti adanya re-Christianization (Kristianisasi, red) mengambil tempat.
“Apa yang kami tinjau melainkan re-Paganization (paganisasi-aliran sesat, red),” katanya.
Pdt. Gerald McDermott, seorang pendeta Episkopal dan seorang profesor agama dan filsafat di Roanoke College, Salem, mengatakan fenomena hampir sama juga terjadi di Amerika Serikat.
“Banyaknya segala rupa paganisme menciptakan spiritualitas palsu yang terbukti merupakan rival yang lebih berbahaya untuk iman Kristiani daripada ateisme.”
Mr. Pannenberg, seorang Lutheran, memuji gereja Katolik Roma yang menangani hal ini lebih bijaksana daripada Protestan,
“Katolik berpegang pada pesan utama dari Kekristenan tanpa membuat konsesi apapun dalam hal etis,” katanya, mengacu pada isu-isu seperti pernikahan sesama jenis dan aborsi.
Mr. Zulehner, seorang Katolik melihat kesempatan Kekristenan yang paling besar yaitu saat pesannya ditujukan kepada pencarian perikemanusiaan pada jaman ini yang tampaknya tidak dapat didamaikan kembali yaitu pencarian kebebasan dan kebenaran.t
"Kekristenan sendiri menegaskan bahwa kebenaran dan ketergantungan kepada Tuhan adalah properti yang tidak dapat dipisahkan dimana berkaitan dengan kebebasan.”
Dari jauh ia melihat adanya penyebaran bentuk-bentuk spiritualitas. Dia mengatakan ateisme akan datang pada ujung akhir.
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.