Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Tokoh Agama-Adat: Stop Eksploitasi Alam


Posted: Dec. 04, 2007 19:56:38 WIB
tokoh-agama-adat-stop-eksploitasi-alam

Seorang siswi menanam benih pohon dalam kampanye penanaman pohon di Cibubur, Sabtu (01/12). Delegasi dari 190 negara berkumpul di Bali mulai Senin lalu untuk menghadiri Konferensi Iklim yang akan membahas cuaca, bencana, gelombang panas, perubahan iklim, pemanasan global, dan penerus Porotokol Kyoto yang akan selesai tahun 2012. (Foto: AP/Dita Alangkara)

Tokoh agama dan adat di Indonesia mengekspresikan keprihatinannya terhadap pemanasan global, menyatakan kerusakan lingkungan yang disebabkan tindakan manusia adalah melawan nilai-nilai agama dan spiritual, yang mengajarkan orang untuk menjaga alam dan hidup harmonis satu sama lain.

Hal itu ditegaskan tokoh agama dan tokoh adat dalam pernyataan sikap menyikapi perubahan iklim menjelang UNCC di Bali, yang digelar di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Kamis lalu.

Ketua Steering Commitee, Raja Juli Antoni, yang membacakan pernyataan bersama, meminta agar pemerintah meninjau ulang peraturan perundang-undangan yang tidak mendukung kegiatan pelestarian lingkungan hidup.

Selain itu, mereka menuntut pelaku ekonomi dunia, khususnya Amerika Serikat dan Australia segera melakukan pemotongan secara besar-besaran emisi gas rumah kaca, karena secara empiris 85 persen dari emisi dunia berasal dari negara-negara maju tersebut.

Negara maju didesak memberikan kompensasi bagi negara-negara berkembang, sebagai bentuk hibah untuk memperbaiki ekologi yang sudah lama dieksploitasi demi kepentingan konsumsi negara maju.

"Kami juga mendorong kepada pemerintah dan institusi pendidikan untuk memasukkan materi lingkungan hidup dan kearifan lokal ke dalam kurikulum pendidikan pada setiap pendidikan formal dan non-formal," bunyi pernyataan itu.

Tuntutan para tokoh agama dan tokoh adat itu, tidak terlepas dari beberapa dekade terakhir ini, dunia benar-benar merasakan akan dampak terjadinya perubahan iklim.

Indonesia mengalami kerusakan lingkungan terparah di dunia, dimana sekitar 50 juta hektar hutan di tanah air telah dieksploitasi besar-besaran, menurut Jakarta Post.

Dalam skala yang paling mikro dampak perubahan iklim tersebut, secara langsung dapat dirasakan Indonesia sebagai negara kepulauan yang masyarakatnya berprofesi sebagai petani, nelayan dan masyarakat adat.

"Manusia bukanlah pemilik bumi ini dan tidak mempunyai hak mengeksploitasi alam sesuka hati mereka. Tuhan adalah pencipta bumi ini dan manusia adalah hamba-Nya," kata Romo Ismartono dari Konferensi Waligereja Indonesia.

Leonard Imbiri dari Papua berkata bahwa hutan-hutan di Papua berada dalam kondisi mengenaskan saat ini.

"Orang tahu kalau Papua memiliki hutan yang sangat mengagumkan...tapi anda bisa lihat kalau saat ini hutan dan alam disana sudah rusak parah. Habis sudah uspaya masyarakat asli untuk menjaga alam," katanya seperti dikutip Post.

Sejumlah tokoh agama yang hadir dalam acara itu, antara lain, Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah), KH Ali Maschan Musa (PWNU Jatim), Pendeta IWJ Hendrik (PGI), Romo Ismartono (KWI), Rusli (Walubi), dan I Made Gde Erata (PHDI).

Sedangkan tokoh adat, Priyaldi (Minang), Adjim Arijadi (Banjar), Kasim Badul Rahman (Dayak), Jaro Dainah (Baduy), Leonard Imbiri (Papua), M Toyyibi (Jawa), Solahur Robban (Madura), Zulkifar Sawang (NAD) dan Al-Azhar (Melayu).

Next Story : Mesir Keluarkan Keputusan Melarang Diskriminasi

More news in ministries

Pembangunan Gereja di Cirebon Diprotes Warga

Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.

Terpopuler

Headlines Hari ini