Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

YTLI: Jangan Ada Lagi Kusta Diantara Kita


Posted: Jun. 14, 2008 11:06:58 WIB
ytli-jangan-ada-lagi-kusta-diantara-kita

Workshop sehari "Jangan Ada Kusta Diantara Kita" di Departemen Sosial RI, Rabu. (Foto: Kristiani Pos)

ytli-jangan-ada-lagi-kusta-diantara-kita

Ir. Nuah P. Tarigan, MA direktur eksekutif YTLI bersama mantan penderita kusta yang telah sembuh (Foto: Kristiani Pos)

Mendengar kata kusta, gambaran yang muncul umumnya adalah suatu penyakit yang menjijikkan, terkutut atau turunan. Itulah fenomena yang masih ada sampai saat ini dalam masyarakat Indonesia dan internasional.

Stigma dan diskriminasi yang masih melekat pada penderita kusta, makin membuat keberadaan mereka tersisihkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Kusta yang merupakan salah satu fenomena sosial yang ada di bangsa ini, keberadaannya patut diberikan perhatian khusus. Penyakit ini banyak diderita oleh masyarakat yang tegolong kaum marginal dan miskin, yang kehidupan mereka tidak layak baik dari segi sanitasi, gizi dan kesehatannya dimana Indonesia merupakan negara dengan persentase penduduk marginal dan miskinnya tinggi. Semakin banyak kemiskinan, dapat dipastikan masalah kusta akan semakin bertambah jika tidak cepat tanggap.

Salah satu usaha yang dilakukan sebagai bentuk kepdulian terhadap penderita kusta dan usaha untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap penderita kusta maka Yayasan Transformasi Lepra Indonesia (YTLI) bersama-sama dengan Aliansi agama di Indonesia antara lain (PGI), Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Konferensi Wali Gereja Indonesia(KWI), WALUBI, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), PGLII dan juga Matakin serta bekerjasama dengan Depkes RI menggelar acara Workshop sehari bertema "Indonesia Peduli Leprosy" Rabu lalu (11/6) bertempat di gedung Aneka Bhakti Departemen Sosial RI.

Acara yang dirangkai dengan talk show "Jangan Ada Kusta Diantara Kita", dilanjutkan dengan pemutaran film dan pemeran foto, pameran buku dan juga kerajinan, serta presentasi hasil riset kampung-kampung kusta di Indonesia. Dalam acara tersebut juga dimeriahkan oleh Ramona Purba, Fierza Mamamia, PM Toh dan beberapa artis pendukung lainnya.

Puncak dalam acara workshop tersebut adalah penandatanganan sebuah kesepakatan dalam upaya penghapusan stigma dan diskriminasi pada penderita kusta oleh berbagai elemen baik keagamaan, pemerintah, pengusaha dll, yang mana dalam kesepakatan tersebut menyatakan untuk setiap elemen setuju untuk bersama-sama berusaha menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang kusta. Dalam acara Workshop tersebut juga sekaligus peluncuran "INDONESIA PEDULI Leprosy" - Peduli bukan sekedar Charity.

Sebelumnya juga telah diadakan research yang dilakukan di seluruh kampung kusta yang saat ini berjumlah 68 di seluruh Indonesia. "Kampung kusta ini terbentuk karena adanya paradigma pada jaman dahulu yang mana masyarakat ingin menempatlkan para penderita kusta itu di luar area kehidupan mereka sehari hari, dan menempatkan penderita pada suatu tempat sehingga orang lain tidak terjangkit," kata Ir. Nuah P. Tarigan, MA direktur eksekutif YTLI.

"Kusta sendiri memang merupakan penyakit yang menular yang sebenarnya tidak menular, dalam arti proses perkembangan bakteri kusta (Mycobacterium Leprae) membutuhkan waktu yang lambat, dan jika daya tahan seorang baik maka dengan sendirinya bakteri tersebut akan mati," jelasnya.

Obat penyakit kusta sendiri sudah ditemukan sejak tahun 1980 bernama MDT (Multi Drug Theraphy) yang dapat diperoleh secara gratis di puskesmas. Dikatakan lebih lanjut bahwa kusta tipe basah (multibacillary) dalam proses penyembuhannya memerlukan waktu 12 bulan sedangkan untuk tipe kering (Paucibacillary) hanya diperlukan 6 bulan dengan memakan obat secara teratur. "Bagi penderita kusta yang mendapatkan pengobatan dini sebelum timbulnya cacat, akan sembuh secara sempurna!" tambahnya.

Saat ini daerah yang banyak terkena kusta adalah Jawa Timur sekitar 5000 orang setiap tahunnya dan secara nasional mencapai angka yang cukup signifikan yakni 20.000 orang setiap tahunnya. Karena Jawa Timur merupakan salah satu propinsi yang berpenduduk padat dan biasanya kusta ini berjangkit di daerah pantai dan di daerah-daerah yang sanitasinya sangat minim.

Yayasan Transformasi Lepra Indonesia (YTLI) yang memprakarsai acara workshop sehari ini merupakan yayasan non pemerintah yang peduli terhadap masalah kusta berdiri tepatnya 17 Juli 2007 adalah sebuah yayasan yang merupakan perpanjangan tangan dari The Leprosy Mission Internasional (TLMI) yakni sebuah yayasan Kristen yang menangani mengenai Lepra bertempat di London. yang mana dalam misinya YTLI berusaha untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi secara bertahap.

Nuah juga melanjutkan bahwa dalam program YTLI sendiri ada 3 pilar program yakni tindakan preventif (leprosy perevention control program) yakni suatu program pencegahan terhadap kusta. Dengan pendekatan dari bawah ke atas dengan mengundang orang-orang lepra yang akhirnya diharapkan dapat menjadi orang-orang yang dapat ketuk tular dengan pemberian informasi yang di dapat dari orang yang menderita penyakit kusta.

YTLI dalam menjalankan misinya tidak terlepas dari nilai-nilai yang dianutnya yakni holistic, professional, berlaku wajar, dan terbuka serta dalam menjalankan program-programnya juga bekerjasama dengan organisasi Perhimpunan Mandiri Kusta(PerMaTa) yang mana mereka ingin agar orang-orang yang pernah mengalami kusta dapat mengambil peran yang lebih besar di masa yang akan datang serta melibatkan mereka dalam masalah-masalah medical, advokasi, dan sosio-ekonomi.

Turut hadir dalam workshop tersebut perwakilan dari WHO Bpk. Revangkar, dan dari Depkes RI Ibu Ning.

Dalam upaya untuk membantu kaum penderita kusta di Indonesia, YTLI juga melakukan berbagai macam upaya antara lain mensosialisasikan mengenai kusta melalui media seperti heartline, Sonora dan juga mengadakan research di kampong-kampung kusta yang dilakukan di 15 propinsi yang menjadi sasaran research kusta untuk beberapa bulan kedepannya. Yang mana hasilnya akan disosialisaikan pada pertemuan orang-orang kusta yang akan berlangsung pada bulan Desember 2008 dengan mengundang semua orang-orang kusta dan membicarakan masalah tentang kampung kusta, serta apa yang ingin dibuat disetiap kampung kusta di masing-masing daerah.

Yang mana maksudnya orang-orang kusta bicara untuk dirinya sendiri sedangkan YTLI hanya memfasilitasi acara tersebut. Dalam pertemuan Desember mendatang juga akan melibatkan berbagai macam elemen dan nantinya dapat dibawa ke pemerintah dan stakeholder untuk dapat ikut serta membantu kampung kusta tertentu, dimana setiap propinsi yang memiliki kampung kusta memiliki kebutuhan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. "Mereka yang akan berbicara atas nama diri mereka sendiri, itu kenapa pendekatan yang dilakukan bukan dari atas ke bawah tetapi dari bawah ke atas," tegas Nuah.

Adi Yosep, salah seorang mantan penderita kusta, juga ikut membagikan pengalamannya ketika menderita penyakit tersebut dan saat ini dia aktif secara penuh dalam pelayanan terhadap penderita kusta di Makasar sebagai kepeduliannya sebagaiorang yang pernah menderita kusta dan serta memberikan dukungan kepada penderita kusta dengan berusaha membangun karakter dan sikap yang harus dimiliki para penderita kusta untuk tidak merasa bahwa kusta adalah akhir segalanya.

Seperti namanya, Yayasan Transformasi Lepra Indonesia kiranya tranformasi pemikiran ini dapat konsisten dan simultan dengan seluruh komponen masyarakat Indonesia. Dan juga ingin agar para pemuka agama, professional, pemerintah wiraswatawan dapat terlibat dalam pengentasan kusta.

Next Story : Mesir Keluarkan Keputusan Melarang Diskriminasi

More news in ministries

Pembangunan Gereja di Cirebon Diprotes Warga

Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.

Terpopuler

Headlines Hari ini