Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Kopi Buka Jalan untuk Lahan Pekerjaan dan Injil di Uganda


Posted: May. 22, 2007 02:27:43 WIB

FRANKLIN PARK, Pennsylvania (AP) – Tiga puluh pekerja di sebuah pertanian kopi di Uganda menanam benih sebuah usaha yang membolehkan sekelompok umat Kristen di Pennsylvania untuk membawa pekerjaan dan juga Injil ke salah satu negara termiskin di Afrika.

Organisasi nonprofit Christian East African and Equatorial Development Trust, yang menjalankan Ugandan Gold Coffee, adalah jaringan orang Amerika, Uganda, toko kopi dan distributor yang menanam, menuai, menggiling, dan menjual kopi dari pertanian seluas 36 hektar di Bunyoro-Kitara, Uganda, bekas wilayah kerajaan yang mempunyai akar Anglikan kuat.

Usaha itu menciptakan lebih dari 12 pekerjaan di sebuah wilayah yang 60 persen penduduknya menganggur. Keuntungan dikembalikan ke Uganda untuk memenuhi kebutuhan dasar. Tahun ini, uang digunakan untuk membuat 11 sumur baru.

"Kami ingin menciptakan lahan pekerjaan di sana, kami ingin menciptakan penghasilan yang disokong sendiri," kata Worth Helms, seorang mantan broker asuransi yang menyimpan kemasan-kemasan kopi di rumahnya di Pittsburgh. "Kami ingin mengajar orang bagaimana mengatur suatu kesatuan seperti ini."

Kristiani, Muslim bahkan animis dapat menggunakan sumur atau apa saja yang merupakan hasil keuntungan pertanian itu, meskipun terletak di daerah yang kebanyakan Kristiani. Ini tambahan positif yang membawa Kekristenan ke lebih banyak orang, kata Helms.

Saat ini, kopi dapat dibeli di dua toko kopi di Pennsylvania dan satu toko di Ohio. Sebagai tambahan, mereka menjual kopi secara online, dan bahkan mengubah garasi menjadi pabrik pengepakan mini untuk memenuhi orderan Natal.

Jessica Buteraba, pengawas pertanian, mendapatkan $38 per bulan, sangat lumayan menurut standar Uganda. Dia bisa membayar sekolah kelima anaknya bahkan membangun rumah baru dengan sistem solar.

"Pertanian ini berbeda karena … memberikan pekerjaan, bukan hanya sumbangan," memperbaiki kehidupan 30 pekerja tetap dan 100 pekerja migran yang dipekerjakan selama masa panen enam minggu, kata Buteraba dalam wawancara telepon.

Berpenduduk 24,4 juta yang terletak di sebelah timur Afrika, Uganda adalah salah satu negara termiskin di dunia, dengan pendapatan per kapita $300 per tahunnya. Kaum pekerja di sana berkurang banyak karena AIDS, yang memporak-porandakan daerah sub Sahara di Afrika dan mengakibatkan sekitar 1,9 juta anak kehilangan satu atau kedua orangtuanya.

Jumlah itu, mendorong kelompok-kelompok Kristiani untuk membantu tidak hanya Uganda, tetapi juga negara-negara lain di Afrika – yang dilihat sebagai garis perbatasan terakhir untuk penyebaran Kekristenan.

"Ada pengertian luas bahwa Kekristenan bertumbuh dan akan semakin bertumbuh dengan adanya bantuan amal dari Amerika Serikat dan Kanada," kata Candy Gunther-Brown, seorang profesor studi agama di Indiana University.

Kebanyakan organisasi – mulai dari World Vision yang sudah terkemuka sampai yang lebih kecil – menyumbangkan makanan, pakaian dan barang-barang lain. Misi juga membantu pembangunan rumah, membuat sumur, mengajar anak-anak, selagi menyebarkan firman Yesus, kata Gunther-Brown.

Namun apa yang membuat Ugandan Gold tidak biasa adalah pendapatannya sebagian besar dari penjualan, bukan sumbangan, kata Chris Scheitle, seorang kandidat doktor dari Penn State yang sedang mengerjakan disertasi mengenai lembaga-lembaga Kristen non profit.

Ugandan Gold juga berbeda dari perusahaan yang biasanya lebih peduli terhadap upah karyawan yang adil. Helms berkata perusahaan kopinya lebih sukses menghasilkan pendapatan untuk Uganda – mengirim kembali $6,25 dari setiap kemasan senilai $8 yang terjual di Amerika Serikat, lima kali dari bisnis serupa.

"Muzijatnya yaitu … mereka dapat bersatu dan bekerja dan menghasilkan pertanian yang sangat teratur dan baik," kata Thad Cox, pebisnis dari Dallas yang bertindak sebagai pemimpin pertanian sejak didirikan tahun 1999.

Sylvia Nannyonga-Tamusuza, 38, seorang Uganda yang meraih gelar doktor etnomusikologi dari University of Pittsburgh dan bekerja erat dengan Ugandan Gold, mengatakan, pertanian kopi lebih membantu Uganda daripada bantuan amal.

Pekerjaan misionaris harus "memperkaya kapasitas orang untuk mempertahankan hidup mereka sendiri," kata Nannyonga-Tamusuza. "Artinya apapun yang dibuat, harus dipikirkan sehingga mereka dapat mengaturnya. Mereka perlu mendukung diri mereka sendiri, jika tidak kita mengekalkan ketergantungan."

Helms pertama kali mengunjungi Uganda pada tahun 1999. Saat kembali, Helms, istrinya Janet, dan empat orang lainnya memutuskan untuk memulai usaha jangka panjang di sana. Kopi dipilih karena memenuhi 80 persen dari pendapatan ekspor Uganda, katanya.

"Jika pada tahun 1998 anda bertanya apakah saya akan memulai bisnis di Uganda tahun depan, saya akan menganggap anda gila," kata Helms.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

© 2007 AP Wire and wire service sources. All Rights Reserved.

Next Story : Bupati Asahan Minta Maaf atas Perusakan Gereja

Terpopuler

Headlines Hari ini