Mungkinkah Menjadi Pengikut Kristus Namun Tetap Seorang Hindu ?
Posted: Oct. 10, 2007 04:11:27 WIB
Apakah mungkin menjadi seorang Hindu dan mengikuti Yesus Kristus?
Beberapa misiologis atau ahli misi tidak hanya menganggukkan kepala mereka, tapi bahkan mendukung praktek tersebut.
Berlawanan dengan anggapan kebanyakan Kristiani, adalah mungkin menjadi seorang pengikut Kristus yang sepenuhnya namun tetap sebagai seorang Hindu yang sungguh dan benar – sebagai Krista Bhakta, sebutan mereka.
"Anda tidak dapat mengatakan seorang Hindu adalah seseorang yang percaya pada A, B dan C," kata Raghav Krishna, seorang Krista Bhakta dari Hindu Brahmin yang nama aslinya disembunyikan untuk keamanan.
"Mungkin cara terbaik untuk mengatakannya adalah seseorang yang lahir dari dari orangtua Hindu adalah Hindu dan bisa memeluk kepercayaan apapun yang anda inginkan."
Pada pertemuan tahunan International Society for Frontier Missiology, Krishna menekankan bahwa tidak ada konsensus mengenai definisi seorang Hindu. Diperhatikan bahwa India terdiri dari 4.500 komunitas yang berbeda sehingga apa yang dianggap bentuk-bentuk Hindu tergantung komunitas individu tersebut.
Menjaga aturan Hindu dapat berarti menghadiri pertemuan di rumah untuk kebaktian Minggu daripada di bangunan gereja, menyanyikan bhajan (musik devosional gaya India) daripada lagu pujian berbahasa Inggris, melanjutkan aturan diet Hindu, dan mengikuti upacara air daripada pembabtisan di gereja Kristen.
Kesalahpahaman Umum
Di sepanjang konferensi itu, pembicara membahas kesalahpahaman umum bahwa Hinduisme adalah suatu agama seragam meski dalam faktanya itu lebih seperti payung identitas untuk berbagai komunitas budaya dan agama yang beraneka ragam. Akan tetapi, kebanyakan Kristiani cenderung mengartikan kata Hindu sebagai agama homogen, singular – adalah suatu pengertian yang menyesatkan.
"Dalam sejarah, beberapa orang – termasuk William Carey – mengacu istilah Hindu Kristiani untuk mengartikan Hindu dalam hal kehidupan sipil dan Kristiani dalam hal religi," tunjuk H.L. Richard, yang menghabiskan lebih dari 20 tahun bekerja dan mempelajari Hinduisme dan pelayanan Kristen ditengah umat Hindu.
"Saat ini, kebanyakan orang menganggap terminologi ini terlalu membingungkan dan bertanya-tanya mengapa seorang pengikut Kristus perlu mengabaikan identitas Hindu-nya dan mengadopsi semua bawaan yang termasuk dalam label ‘Kristen'," tambahnya.
Richard mengatakan istilah Kristen juga tidak boleh ditawan sebagai hanya acuan agama. Ia menunjuk Eropa dimana kata Kristen biasa digunakan dalam tata krama sejarah dan sipil dalam acuan melebihi kepercayaan religius atau jalan hidup seseorang. Cendekiawan tersebut mengemukakan bahwa umat Hindu mengartikan kata Kristen sebagai deskripsi geo politik dan sipil daripada sesuatu yang rohani atau religi.
Mengapa Bentuk Hindu Diperlukan
Pendukung gerakan Krista Bhakta beragumen bahwa umat Hindu yang berbalik kepada Kristus tidak boleh dipaksa untuk mengabaikan budaya dan identitas mereka, namun malah menjadi pengikut Yesus Kristus sementara bersukacita bahwa Tuhan telah membuat mereka menjadi umat Hindu dan berhasrat melayani Dia sebagai umat Hindu.
"Dalam Islam dan Hinduisme, kita bersikeras agar mereka keluar dari budaya mereka dan itu tidak biblikal," kata Dr. Ralph D. Winter, pendiri U.S. Center for World Mission dan salah satu pendiri ISFM, September lalu. "Ini menyalah artikan Alkitab dan tidak akan dan tidak pernah sukses. Tidak seharusnya sukses.
"Tuhan tidak ingin menghancurkan bahasa atau budaya (India) mereka, Ia ingin membuatnya lebih baik."
Krishna, misalnya, mengatakan bentuk barat di gereja sangat "asing" bagi seorang Hindu. Ia menyadari banyak umat Hindu yang berada di dalam Kristus dapat saja pada akhirnya mengadaptasi bentuk-bentuk ibadah barat, namun harga ini harus dibayar dengan pengasingan dari teman dan keluarga dan mungkin hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan.
"Pentingnya bentuk-bentuk sosial bagi saya – karena saya lahir di sebuah keluarga Hindu dan terbiasa dengan bentuk-bentuk ini – adalah semuanya itu membuat saya mempunyai pengalaman akan Kristus dalam cara yang lebih dalam," kata Krishna.
Lebih jauh lagi, pendukung gerakan ini beragumen bahwa pengikut Yesus yang tetap menjadi Hindu dan mengekspresikan iman mereka menggunakan bentuk-bentuk Hindu dapat lebih baik bersaksi kepada lingkungan mereka dan menghindari ketegangan yang tidak perlu di dalam keluarga.
"Batu sandungan di India tidak ada kaitannya dengan teologi," kata Richard. "Tuhan Tritunggal sama sekali bukan permasalahan bagi umat Hindu. Itu adalah masalah bagi kaum rasionalis Amerika dan umat Muslim, namun tidak ada seorang Hindu yang mempunyai masalah dengan Trinitas.
"Tantangan ke-Kristenan adalah perubahan komunitas," tambah Richard, yang mendukung orang percaya baru yang mempertahankan dengan integritas budaya Hindu mereka.
"Mengapa kamu meninggalkan kami dan pergi ke mereka? Bagaimana mereka bisa lebih baik daripada kami? Bukankah banyak korupsi yang terjadi di ke-Kristenan seperti di Hinduisme? Mengapa kamu memalukan bangsa kita?" ia mencontohkan daftar pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan lingkungan sekitar.
"Jadi masalah lingkungan ini benar-benar dasar dan fundamental," kata Richard.
Beberapa dari peserta muda awalnya ragu saat mereka mendengar seseorang dapat mengikuti Yesus sebagai Hindu, namun kemudian mengatakan mereka mendukung praktek itu setelah mengerti bahwa Hinduisme bukanlah agama, namun suatu peradaban kompleks yang menerima ekspresi-ekspresi religi di dalam berbagai bentuk budayanya.
"Saya akan berjalan dalam tradisi Hindu sepanjang itu tidak bertentangan dengan iman saya kepada Kristus," jelas J.V., seorang Brahmin pengikut Kristus yang memimpin sebuah pelayanan kampus bagi siswa-siswa Hindu di Amerika Serikat.
Pertemuan International Society of Frontier Missiology diadakan pada 15-17 September Dallas, Texas, dan mengumpulkan ahli misi, misonaris, dan mereka yang bekerja di ladang misi. Konferensi tahunan itu berkonsentrasi menjangkau orang yang paling sedikit akses ke Injil. Tema tahun ini adalah India: Debating Global Missiological Flashpoints.
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.