KOMUNIKASI
di dalam perkembangannya telah mengalami suatu transformasi alamiah dari Komunikasi
yang bersifat tradisional kepada Komunikasi yang bersifat modern. Dimana masing-masing
mempunyai karakteristik tersendiri sesuai dengan perubahan sejarah yang menyertainya
baik dari aspek politik, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Cara berkomunikasi jaman purbakala akan tampak berbeda dengan cara berkomunikasi
pada jaman sekarang. Perubahan sosiokultur akibat adanya faktor eksternal seperti
peperangan, perubahan alam atau bencana alam, revolusi sosial budaya, revolusi
industri perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan akan
selalu mewarnai apa yang disebut “What, Where, Why, Who, When
and How to Communication”.
ETIKA DAN
DINAMIKA KOMUNIKASI juga adalah bagian terpenting untuk kita pelajari
agar lebih memahami kebutuhan paling hakiki di dalam diri manusia baik secara
lahiriah maupun batiniah misalnya: Bayi hanya mempunyai satu cara berkomunikasi
untuk memenuhi kebutuhannya yaitu Menangis.
Kebutuhan manusia baik lahiriah maupun batiniah akan dapat terpenuhi dengan
berkomunikasi. Di dalam pemenuhan kebutuhan Spiritual pun kita perlu berkomunikasi.
Tuhan Jesus selalu dan selalu berkomunikasi dengan manusia untuk menyampaikan
Kehendak BAPA. Tuhan berkomunikasi dengan manusia melalui FirmanNYA. Untuk itulah
dibutuhkan sebuah pemahaman yang mendalam mengenai Etika dan Dinamika Komunikasi
sehingga pelayanan kita akan dibuatNYA berhasil. Berikut beberapa uraian yang
berkaitan dengan topik pembahasan kita mengenai Etika dan Dinamika Komunikasi
yang saya alami dan dalami selama bertahun-tahun.
1. KEGAGALAN
Gereja dalam menyampaikan Kabar Baik kepada dunia ini adalah karena
Gereja kurang cakap berkomunikasi. Pesan-pesan Tuhan di dalam FirmanNYA bisa
saja tidak sampai kepada jemaat karena :
a. Gereja memiliki “kepentingan tersembunyi” ketika berkomunikasi
kepada jemaatnya. Sebenarnya perbedaan theology masing-masing denominasi gereja
bukanlah penyebab perpecahan gereja, tetapi penyebab utamanya adalah adanya
“kekuasaan dengan agenda-agenda politiknya” yang sedang dimainkan
yang bersembunyi dibalik perbedaan doktrin dan terus dimainkan di dalam kepentingan
tersembunyi yang dilakukan oleh para pemimpin gereja.
b. Gereja yang hanya bertahan dengan cara berkomunikasi yang bersifat Monologis saja. Tuhan Yesus di dalam menyampaikan Firman, Kebenaran, Pengajaran dan Pesan-pesanNya dengan cara berkomunikasi yang juga bersifat Dialogis (dua arah).
c. Gereja telah
mengembangkan dirinya dalam menyampaikan kabar baik dengan metode berkomunikasi
yang salah, misalnya: Menakut-nakuti jemaat, menghakimi dengan menggunakan ayat-ayat
Firman Tuhan, membuat ‘gap’ dengan kelompok masyarakat tertentu,
diskriminasi gender, membuat aturan-aturan yang hanya berorientasi kepada kepentingan
sendiri, mengutip ayat secara sepotong-potong tanpa rujukan ayat-ayat pendukung
yg lain atau menafsirkan ayat-ayat tanpa dasar yg Alkitabiah.
d. Eksklusifitas Gereja; membatasi diri terhadap lingkungan di sekitarnya, merasa
sebagai komunitas yang paling benar sendiri lalu mengabaikan komunitas lainnya,
menonjolkan karunia-karunia tertentu sebagai satu-satunya pembenaran atas kelompok,
kesombongan rohani, dan lain-lain.
e. Gereja menutup diri terhadap perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, salah satu contoh misalnya penguasaan teknologi informasi yang masih
rendah. Sebenarnya semakin gereja menguasai IT (Information technology) maka
semakin berkembanglah cara kita berkomunikasi dalam menyampaikan kabar baik
kepada dunia, sehingga Firman Tuhan yang menyatakan: “supaya setiap telinga
mendengar nama Yesus, maka KedatanganNya semakin dekat..” akan segera
digenapi.
2. ETIKA BERKOMUNIKASI dan memahami DINAMIKA BERKOMUNIKASI sangat dibutuhkan bagi para pekerja Kristus. Tujuan utama dari semua itu adalah ; “..agar semua yang mendengar nama Yesus, menjadi percaya dan diselamatkan”. Dalam hal ini berarti ada 3 Kata Kunci dari tujuan utama tersebut yang mendasari (menjadi motivasi) kita untuk mempelajari dan memahami Etika dan Dinamika Berkomunikasi, yaitu :
a. “Agar semua mendengar nama Yesus..” : Dalam hal ini gereja harus terus mengembangkan dirinya untuk menjadi Komunikator yang handal khususnya dalam penguasaan teknologi komunikasi. Pastikan bahwa semua orang mendengar nama Yesus melalui berbagai media, jaringan, teknonogi, pengetahuan berkomunikasi dan kesaksian hidup kita. Jadi, dimanapun berada kita harus selalu membawa nama Yesus. Yesus menjadi satu-satunya Pribadi yang kita beritakan ke segenap penjuru dunia, bukan doktrin gereja, bukan kharisma para gembala, bukan- karunia para pekerja Kristus, bukan tata cara beribadah, bukan- kepentingan organisasi, bukan program-program yang briliant, bukan- kemanusiaannya manusia, bukan berkat materi maupun rohani, bukan- kecakapan dan kemampuan berkhotbah atau menafsirkan Alkitab, bukan- superioritas kelompok gereja, sekali lagi bukan.. tetapi lebih dari semua itu Nama Yesus lah yang menjadi Pusat Pemberitaan kita.
b. “Agar
semua menjadi percaya” : Membuat semua orang percaya kepada Tuhan
bukanlah sesuatu yang mudah dan instan.
Setidaknya ada 3 alasan yang mendasarinya: Pertama, kita harus percaya terlebih
dahulu kepada Tuhan dengan segenap hidup kita, tanpa syarat, tanpa keraguan
dan tanpa motivasi terselubung. Kedua, kita harus di percaya oleh semua orang
yaitu dengan memiliki
integritas yang tinggi. Bagaimana orang lain akan menjadi percaya kepada Tuhan
jika hidup kita tidak bisa dipercaya ? Ketiga, kita harus mempunyai kepercayaan
diri yang tinggi bahwa Tuhan telah mempercayakan tugas pelayanan ini sebagai
Bagian dari KehendakNya.
c. “Agar
semua diselamatkan” : Berarti hidup kita harus berkenan KepadaNya
agar selalu dipercaya oleh Tuhan karena Tuhanlah yang
memberi keselamatan, bukan manusia atau gereja dan senantiasa memohon keselamatan
atas orang lain yang kita layani melalui
kesaksian hidup kita dan doa-doa yang kita panjatkan agar keselamatan dari Tuhan
dicurahkan kepada semua orang. Karena itu “tetaplah setia ! Kesetiaan
Yesus sampai mati mendatangkan Anugerah Keselamatan bagi semua orang yang percaya
KepadaNYA.
3. KEGAGALAN
PEKERJA KRISTUS BERKOMUNIKASI dalam menyampaikan Kabar Baik dari Tuhan
secara verbal atau testimonikal dapat dikategorikan sebagai ‘pohon atau
ranting yang tidak menghasilkan buah’.
Beberapa hal yang mendasar dan perlu kita ketahui sekaligus dijadikan pelajaran
agar tidak terulang atau mengulangi kegagalan tersebut antara lain :
a. Jadilah
Pendengar yang Baik (”be a good listener”)
Tuhan Yesus adalah seorang Pendengar yang Baik, contoh paling ekstrem yang bisa
kita lihat dari Yesus adalah bukan ketika bertemu dan mendengarkan Zakheus,
Orang Farisi yang mengkritikNya, wanita Samaria yang bercerita tentang “rasa
dahaga jiwanya”, akan tetapi contoh yang paling bisa menggambarkan betapa
Yesus adalah seorang Pendengar yang Baik yaitu ketika Yesus berhadapan dengan
anak-anak. Bisa dibayangkan betapa murid-murid Yesus menjadi tidak sabar manakala
anak-anak menghampiriNYA. Anak-anak dianggap sebagai penghalang, belum mengerti
apa-apa, mendengarkan anak-anak adalah suatu pekerjaan yang melelahkan dan membuat
kita tidak sabar.
Menjadi
Pendengar yang Baik adalah PINTU, sekali lagi PINTU
untuk memasuki wilayah yang paling pribadi dimana kita bisa mengenal pribadi
orang yang berkomunikasi dengan kita.
Menjadi Pendengar yang Baik berarti memungkinkan kita dapat mengetahui secara
benar tentang apa dan bagaimana kebutuhan manusia yang paling mendasar.
Menjadi Pendengar yang Baik berarti memampukan kita untuk memberikan nasehat,
terapi, informasi, pertolongan, pemenuhan kebutuhan secara benar dan akurat.
Menjadi Pendengar yang Baik berarti menggambarkan betapa dalamnya perhatian
kita kepada Komunikan.
Menjadi Pendengar yang Baik berarti mencerminkan betapa tingginya tingkat kedewasaan
kita dan betapa berkualitasnya kita.
b. Tinggalkan
cara berkomunikasi yang salah. Kadangkala tujuan
yang baik jika dilakukan dengan cara yang salah akan menyebabkan
kegagalan untuk memperoleh apa yang kita inginkan atau tidak sesuai
dengan harapan, berikut beberapa contoh yang harus dihindari :
1. Cara berkomunikasi
yang terkesan menggurui dan merasa paling benar
sendiri.
2. Cara berkomunikasi yang berlagak tahu, merasa paling tahu segalanya padahal
sebenarnya tidak tahu apa-apa.
3. Cara berkomunikasi yang menghakimi dengan menggunakan ayat ayat Firman Tuhan
(Ingat ! Tuhanlah satu-satuNya Hakim)
4. Cara berkomunikasi yang menyinggung status sosial dan ekonomi.
5. Cara berkomunikasi yang meremehkan orang lain (arogan)
6. Cara berkomunikasi yang tidak obyektif dan tidak proposional dimana prinsip
keadilan diabaikan.
7. Cara berkomunikasi yang hanya mementingkan penonjolan kepada diri sendiri
atau kelompok denominasinya.
8. Cara berkomunikasi yang mempunyai motivasi terselubung, misalnya motif uang,
menjilat untuk tujuan-tujuan tertentu.
9. Cara berkomunikasi yang menyinggung perbedaan SARA.
10. Cara berkomunikasi yang emosional, perdebatan, ketersinggungan kemarahan
atau menimbulkan pertengkaran.
11. Cara berkomunikasi yang tidak jujur, penuh kebohongan, membual dan mengada-ada
atau melebih-lebihkan sesuatu.
12. Cara berkomunikasi yang melemahkan semangat atau iman orang lain (tidak
membangun).
13. Cara berkomunikasi yang tidak sopan, sarkasme atau sinisme.
14. Cara berkomunikasi yang terjebak kepada pergunjingan, gossip atau pencemaran
nama baik orang lain.
15. Cara berkomunikasi yang cakap hanya mengurai masalah tetapi tidak memecahkan
masalah (problem solving oriented).
16. Cara berkomunikasi yang monoton, kurang wawasan dan kurang berpengetahuan
(un-educated).
17. Cara berkomunikasi yang tidak bisa menjaga kerahasiaan privasi atau persoalan
seseorang (menyebarluaskan kepada orang lain).
18. Cara berkomunikasi yang berbelit-belit atau bertele-tele.
19. Cara berkomunikasi yang memaksakan kehendak sesuai dengan kepentingan diri
sendiri atau kelompoknya.
20. Cara berkomunikasi yang monolog, menguasai pembicaraan dan tidak memberi
kesempatan bicara kepada orang lain atau ingin cepat-cepat menyampaikan nasehat
dan cepat-cepat menutup pembicaraan.
21. Cara berkomunikasi yang tanpa rasa empati, tanpa kasih sayang dan perhatian.
22. Cara berkomunikasi yang menimbulkan kebingungan atau kecemasan.
23. Cara berkomunikasi yang suka membanding-bandingkan.
4. SEMUA
PERKATAAN ATAU PERNYATAAN YANG KELIHATANNYA
ROHANI BELUM TENTU ALKITABIAH.
Sebagai individu setiap orang mampu berbicara, memperkatakan atau memberikan
pernyataan-pernyataan yang bersifat rohani, tetapi tidak semua orang tersebut
hidupnya benar-benar rohani. Maknanya adalah Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya
mati. Kebanyakan tanpa sadar orang cenderung menyembunyikan kehidupan yang sebenarnya
tidak rohani yaitu dengan cara mengumbar perkataan atau pernyataan yang kelihatannya
rohani. Beberapa contoh yang bisa kita saksikan di dalam kehidupan sehari-hari:
a. Banyak dari antara kita mungkin sering terkecoh dengan penampilan atau perkataan rohani dari seseorang, ternyata orang tersebut memang bertujuan untuk menipu kita misalnya dengan cara meminta imbalan sesuatu.
b. Beberapa Hamba Tuhan atau para konselor sering terjebak memberikan “jawaban standar” untuk semua persoalan yang disampaikan para konsili, yaitu: “kamu harus berdoa!”. Padahal tidak semua persoalan harus diberikan hanya dengan jawaban “Berdoa, Berdoa, Berdoa, dan Berdoa saja”. Kelihatannya jawaban tersebut sangat rohani dan menjadi satu-satunya “jalan keluar” dari semua persoalan, padahal ada aspek lain yang lebih substantif, yang sebenarnya tidak akan mengurangi makna dari Berdoa itu sendiri, misalnya Apa yang harus dilakukan setelah berdoa? Bagaimana caranya untuk memecahkan persoalan tersebut ?
Pernahkah Anda menjumpai di Alkitab, dimana Yesus pada waktu berhadapan dengan
begitu banyak orang yang mempunyai persoalan, Yesus memberikan jawaban : “Kamu
harus berdoa, berdoa, berdoa dan berdoa!!!” misalnya : “Hai Bartimeus
yang buta, berdoa dong.. biar kamu sembuh !! “Hai wanita yang sakit pendarahan,
berdoa dong kepada Tuhan Allahmu supaya engkau menjadi sembuh !! dan lain-lain.
Pernahkah Yesus melakukan hal itu ???? TIDAK, sekali lagi TIDAK !
Tuhan Yesus selalu memberikan “JALAN KELUAR”,
DIA langsung bertindak (ingat!) DIA langsung BERTINDAK,
menyembuhkan sakit penyakit itu (langsung menyelesaikan inti persoalan). Lalu
yang jadi pertanyaan adalah bagaimana dengan kita ? Yesus bisa langsung bertindak
karena memang DIA adalah Tuhan yang bisa menyembuhkan
dan bisa menyelesaikan semua persoalan.
Lalu apakah kita
bisa melakukan seperti apa yang Yesus lakukan ?
Bagaimana caranya ? Jawabannya: “Ya, atas KehendakNya kita bisa melakukan
apa yang Yesus lakukan” Caranya adalah, kita harus ingat bahwa Yesus adalah
Teladan bagi kita, yang pantas dan patut untuk dicontoh. Kalau orang datang
dengan persoalan justru kita yang harus berdoa bagi penyelesaian persoalan orang
tersebut. Berdoalah dengan penuh keyakinan yang kokoh kepada Tuhan dan mintalah
Hikmat Tuhan untuk memberikan nasehat, jalan keluar, semangat sekaligus memberikan
langkah-langkah atau cara bagaimana menyelesaikan persoalan orang yang bersangkutan.Yang
harus di sampaikan adalah “Jalan keluar, jalan keluar dan jalan keluar”.
5. DINAMIKA BERKOMUNIKASI dari waktu ke waktu selalu di pengaruhi oleh perubahan jaman atau seiring dengan perkembangan semua bidang di tengah-tengah masyarakat. Hal tersebut menggambarkan betapa luasnya dan dalamnya dunia komunikasi tersebut, bahkan di alam kekekalan di Sorga yang Mulia pun, komunikasi akan terus berlangsung antara TUHAN dengan UmatNya. Nilai kekekalan itulah yang harus kita pahami agar kita jangan pernah berhenti untuk terus belajar berkomunikasi. Ada jargon yang disampaikan oleh para futurolog (futurist) yaitu; “Orang yang menguasai Informasi akan menguasai dunia” Mulai dari Alvin Toffler sampai John Naisbitt telah meramalkan bahwa sekarang ini adalah Abad Informasi, abad yang mencengangkan dimana dunia saat ini menjadi dunia tanpa batas (global), menjadi “satu atap” dan mengerucut kepada satu kesadaran bersama tentang “How to live together”, hidup berdampingan dalam jarak komunikasi yang tanpa batas. Dalam detik kita bisa berkomunikasi dengan orang lain di belahan bumi yang lain.
Alvin Toffler dalam
bukunya yg berjudul, “Future Shock” khususnya buku“The Third
Wave” yang terbit pada tahun 1970-an telah membagi perkembangan masyarakat
menjadi 3 gelombang yaitu : Masyarakat Agraria, Masyarakat Industri dan Masyarakat
INFORMASI.
John Naisbitt (mantan eksekutif IBM) menulis buku “Megatrends” (1982)
yang lebih menggambarkan secara ‘point to point’ apa yang diramalkan
oleh Alvin Toffler mengenai 3 gelombang perkembangan masyarakat dunia. Bahkan
saat ini John Naisbitt telah menuliskan suatu analisa yang mendalam mengenai
salah satu bab di dalam bukunya (“Megatrends”) yaitu mengenai “Hi
Tech/Hi Touch” Inti dari dalil “Hi Tech/ Hi Touch” tersebut
berbunyi demikian: “Persoalannya sekarang ini adalah bukan bagaimana memanfaatkan
kemajuan
teknologi akan tetapi bagaimana agar kehidupan kita tidak dikuasai oleh teknologi”
(biasa disebut dengan istilah ‘mabuk teknologi’).
Melihat dinamika yang begitu cepat khususnya di dalam dunia komunikasi maka sudah seharusnya kita membuka diri (open minded) terhadap perkembangannya dan memanfaatkan secara maksimal potensi yang Tuhan anugerahkan kepada kita agar kita sebagai anak-anak ALLAH dapat ‘menjangkau dunia’ (to reach people) demi keselamatan umat manusia dan menjadi yang terdepan di dalam segala hal.
Informasi dan Komunikasi adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan karena informasi tanpa dikomunikasikan akan menjadi “sesuatu yang tak berharga” sedangkan Komunikasi tanpa Informasi akan menjadi “sesuatu yang tak bermakna”. Setidaknya ada 3 hal yang mempengaruhi dinamika berkomunikasi yang dapat kita pelajari utk lebih memahami Komunikan (Dengan siapa kita Berkomunikasi ?)
a. Aspek GEOGRAFIS. Batasan kewilayahan, daerah dan kependudukan dengan segala elemen yang ada di dalamnya sangat mempengaruhi bagaimana kita berkomunikasi. Cara berkomunikasi di suatu wilayah akan berbeda dengan wilayah lainnya baik sarana maupun prasarana komunikasi yang dibutuhkan. Masing-masing daerah juga memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Orang Irian Jaya akan berbeda cara berkomunikasinya dengan orang yang tinggal di Jakarta.
b. Aspek
DEMOGRAFIS, meliputi : Jenis kelamin, pekerjaan, S.E.S (Social economic
status), religion, kelahiran(usia) dan elemen lainnya.
Aspek demografis akan semakin memperjelas “Dengan siapa Anda berkomunikasi
?” dan “Bagaimana berkomunikasi dengan mereka ?”
Namun hal yang paling terpenting adalah bahwa kita tidak boleh membatasi diri
dengan siapa kita berkomunikasi atau memilih-memilih dengan motivasi tertentu
dengan siapa kita akan berkomunikasi. Begitu banyak orang yang gagal menjadi
saksi Kristus karena terjebak kepada diskriminasi aspek demografis khususnya
dalam hal status ekonomi dan sosial.
Tuhan Yesus di dalam berkomunikasi tidak pernah membeda-bedakan, siapa saja orang yang ditemuinya entahkah orang kaya atau miskin, pria atau wanita, sehat ataupun sakit, tua atau muda, rakyat atau pejabat, tertindas atau tidak tertindas pokoknya siapapun yang dijumpaiNya, pasti akan tampak terlihat Yesus sangat cakap berkomunikasi dengan mereka (down to earth) bahkan mereka pasti akan mendapatkan “sesuatu” melalui kehadiran Yesus.
c. Aspek PSIKOGRAFIS, berasal dari kombinasi antara aspek Geografis dengan aspek Demografis yang telah diuraikan secara sosial akhirnya menjadi sesuatu yang melampaui kedua aspek yang bersifat lahiriah tersebut, yaitu aspek “kejiwaan” dimana didalamnya terdapat Pikiran dan Perasaan. Aspek Psikografis selalu berorientasi kepada apa yang dipikirkan dan apa yg dirasakan oleh orang pada waktu itu, rasa senang, rasa puas dan lainnya.
Aspek Psikografis meliputi : Gaya hidup, hobby, kesenangan dan hal-hal lain
yang bersifat apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan, sebagai contoh : “Di
Bali saya bertemu dan berbicara dengan Seorang Pria berusia 30 tahun beragama
Kristen seorang Pengusaha dengan penghasilan pertahunnya mencapai 10 milyar
dan dia adalah seorang yang senang berbelanja dan berolahraga”.
Jika kita urai kalimat
tersebut di atas maka akan menjadi :
Di Bali… = Aspek Geografis.
Seorang Pria, 30 tahun, Kristen, Pengusaha, penghasilan 10 milyar/tahun adalah
Aspek Demografis.
Yang senang berbelanja dan berolahraga adalah Aspek Psikografis.
Aspek Psikografis akan semakin memudahkan para konselor maupun pengkhotbah untuk dapat mengerti kebutuhan para konsili atau audience yang sebenarnya bahkan para konselor/pengkhotbah dapat memberikan nasehat, terapi, pertolongan dan lain-lain secara akurat dan tepat guna.
Demikianlah makalah ini saya sampaikan kepada Anda dengan harapan kita dapat lebih memahami bahwa ternyata kita masih terlalu sedikit untuk memberi, masih terlalu sedikit untuk berbuat sesuatu dan masih terlalu kecil untuk memberi arti terhadap tugas-tugas pelayanan kita kepada Tuhan yang telah memberikan yang terbaik, terbanyak, teristimewa, terbesar dan termanis di dalam kehidupan kita.
Bernard Siswoyo Prawirorahardjo
Pekerjaan:
a. Pembicara, diberbagai
acara dan kalangan.
b. President Director, PT KERUBIM INDONESIA (Printing-Advertising-Interior Design-Architecture)
c. Chairman, Yayasan KERUBIM (Ministries-Training & Education-Studio-Literature-Management)
d. Chairman, KERUBIM BIBLE HOUSE. (Bibles-Books-Magazines-Audio/Video Materials-Gifts)
e. Host program Talk Show- “SIARAN TUBUH KRISTUS” di FM 96.35 RPK
(setiap Selasa pkl 20.00 –21.00 WIB)
f . Dosen Tamu 1. Sekolah Misi dan Penginjilan Gereja Bethel Indonesia
2. WLII (WAGNER LEADERSHIP INSTITUTE INDONESIA)
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.