Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

KOMUNIKASI ROHANI


Posted: Nov. 25, 2005 21:05:43 WIB

Untitled Document

KOMUNIKASI di dalam perkembangannya telah mengalami suatu transformasi alamiah dari Komunikasi yang bersifat tradisional kepada Komunikasi yang bersifat modern. Dimana masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri sesuai dengan perubahan sejarah yang menyertainya baik dari aspek politik, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Cara berkomunikasi jaman purbakala akan tampak berbeda dengan cara berkomunikasi pada jaman sekarang. Perubahan sosiokultur akibat adanya faktor eksternal seperti peperangan, perubahan alam atau bencana alam, revolusi sosial budaya, revolusi industri perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan akan selalu mewarnai apa yang disebut “What, Where, Why, Who, When and How to Communication”.

ETIKA DAN DINAMIKA KOMUNIKASI juga adalah bagian terpenting untuk kita pelajari agar lebih memahami kebutuhan paling hakiki di dalam diri manusia baik secara lahiriah maupun batiniah misalnya: Bayi hanya mempunyai satu cara berkomunikasi untuk memenuhi kebutuhannya yaitu Menangis.
Kebutuhan manusia baik lahiriah maupun batiniah akan dapat terpenuhi dengan berkomunikasi. Di dalam pemenuhan kebutuhan Spiritual pun kita perlu berkomunikasi. Tuhan Jesus selalu dan selalu berkomunikasi dengan manusia untuk menyampaikan Kehendak BAPA. Tuhan berkomunikasi dengan manusia melalui FirmanNYA. Untuk itulah dibutuhkan sebuah pemahaman yang mendalam mengenai Etika dan Dinamika Komunikasi sehingga pelayanan kita akan dibuatNYA berhasil. Berikut beberapa uraian yang berkaitan dengan topik pembahasan kita mengenai Etika dan Dinamika Komunikasi yang saya alami dan dalami selama bertahun-tahun.

1. KEGAGALAN Gereja dalam menyampaikan Kabar Baik kepada dunia ini adalah karena Gereja kurang cakap berkomunikasi. Pesan-pesan Tuhan di dalam FirmanNYA bisa saja tidak sampai kepada jemaat karena :
a. Gereja memiliki “kepentingan tersembunyi” ketika berkomunikasi kepada jemaatnya. Sebenarnya perbedaan theology masing-masing denominasi gereja bukanlah penyebab perpecahan gereja, tetapi penyebab utamanya adalah adanya “kekuasaan dengan agenda-agenda politiknya” yang sedang dimainkan yang bersembunyi dibalik perbedaan doktrin dan terus dimainkan di dalam kepentingan tersembunyi yang dilakukan oleh para pemimpin gereja.

b. Gereja yang hanya bertahan dengan cara berkomunikasi yang bersifat Monologis saja. Tuhan Yesus di dalam menyampaikan Firman, Kebenaran, Pengajaran dan Pesan-pesanNya dengan cara berkomunikasi yang juga bersifat Dialogis (dua arah).

c. Gereja telah mengembangkan dirinya dalam menyampaikan kabar baik dengan metode berkomunikasi yang salah, misalnya: Menakut-nakuti jemaat, menghakimi dengan menggunakan ayat-ayat Firman Tuhan, membuat ‘gap’ dengan kelompok masyarakat tertentu, diskriminasi gender, membuat aturan-aturan yang hanya berorientasi kepada kepentingan sendiri, mengutip ayat secara sepotong-potong tanpa rujukan ayat-ayat pendukung yg lain atau menafsirkan ayat-ayat tanpa dasar yg Alkitabiah.
d. Eksklusifitas Gereja; membatasi diri terhadap lingkungan di sekitarnya, merasa sebagai komunitas yang paling benar sendiri lalu mengabaikan komunitas lainnya, menonjolkan karunia-karunia tertentu sebagai satu-satunya pembenaran atas kelompok, kesombongan rohani, dan lain-lain.
e. Gereja menutup diri terhadap perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satu contoh misalnya penguasaan teknologi informasi yang masih rendah. Sebenarnya semakin gereja menguasai IT (Information technology) maka semakin berkembanglah cara kita berkomunikasi dalam menyampaikan kabar baik kepada dunia, sehingga Firman Tuhan yang menyatakan: “supaya setiap telinga mendengar nama Yesus, maka KedatanganNya semakin dekat..” akan segera digenapi.

2. ETIKA BERKOMUNIKASI dan memahami DINAMIKA BERKOMUNIKASI sangat dibutuhkan bagi para pekerja Kristus. Tujuan utama dari semua itu adalah ; “..agar semua yang mendengar nama Yesus, menjadi percaya dan diselamatkan”. Dalam hal ini berarti ada 3 Kata Kunci dari tujuan utama tersebut yang mendasari (menjadi motivasi) kita untuk mempelajari dan memahami Etika dan Dinamika Berkomunikasi, yaitu :

a. “Agar semua mendengar nama Yesus..” : Dalam hal ini gereja harus terus mengembangkan dirinya untuk menjadi Komunikator yang handal khususnya dalam penguasaan teknologi komunikasi. Pastikan bahwa semua orang mendengar nama Yesus melalui berbagai media, jaringan, teknonogi, pengetahuan berkomunikasi dan kesaksian hidup kita. Jadi, dimanapun berada kita harus selalu membawa nama Yesus. Yesus menjadi satu-satunya Pribadi yang kita beritakan ke segenap penjuru dunia, bukan doktrin gereja, bukan kharisma para gembala, bukan- karunia para pekerja Kristus, bukan tata cara beribadah, bukan- kepentingan organisasi, bukan program-program yang briliant, bukan- kemanusiaannya manusia, bukan berkat materi maupun rohani, bukan- kecakapan dan kemampuan berkhotbah atau menafsirkan Alkitab, bukan- superioritas kelompok gereja, sekali lagi bukan.. tetapi lebih dari semua itu Nama Yesus lah yang menjadi Pusat Pemberitaan kita.

b. “Agar semua menjadi percaya” : Membuat semua orang percaya kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang mudah dan instan.
Setidaknya ada 3 alasan yang mendasarinya: Pertama, kita harus percaya terlebih dahulu kepada Tuhan dengan segenap hidup kita, tanpa syarat, tanpa keraguan dan tanpa motivasi terselubung. Kedua, kita harus di percaya oleh semua orang yaitu dengan memiliki
integritas yang tinggi. Bagaimana orang lain akan menjadi percaya kepada Tuhan jika hidup kita tidak bisa dipercaya ? Ketiga, kita harus mempunyai kepercayaan diri yang tinggi bahwa Tuhan telah mempercayakan tugas pelayanan ini sebagai Bagian dari KehendakNya.

c. “Agar semua diselamatkan” : Berarti hidup kita harus berkenan KepadaNya agar selalu dipercaya oleh Tuhan karena Tuhanlah yang
memberi keselamatan, bukan manusia atau gereja dan senantiasa memohon keselamatan atas orang lain yang kita layani melalui
kesaksian hidup kita dan doa-doa yang kita panjatkan agar keselamatan dari Tuhan dicurahkan kepada semua orang. Karena itu “tetaplah setia ! Kesetiaan Yesus sampai mati mendatangkan Anugerah Keselamatan bagi semua orang yang percaya KepadaNYA.

3. KEGAGALAN PEKERJA KRISTUS BERKOMUNIKASI dalam menyampaikan Kabar Baik dari Tuhan secara verbal atau testimonikal dapat dikategorikan sebagai ‘pohon atau ranting yang tidak menghasilkan buah’.
Beberapa hal yang mendasar dan perlu kita ketahui sekaligus dijadikan pelajaran agar tidak terulang atau mengulangi kegagalan tersebut antara lain :

a. Jadilah Pendengar yang Baik (”be a good listener”)
Tuhan Yesus adalah seorang Pendengar yang Baik, contoh paling ekstrem yang bisa kita lihat dari Yesus adalah bukan ketika bertemu dan mendengarkan Zakheus, Orang Farisi yang mengkritikNya, wanita Samaria yang bercerita tentang “rasa dahaga jiwanya”, akan tetapi contoh yang paling bisa menggambarkan betapa Yesus adalah seorang Pendengar yang Baik yaitu ketika Yesus berhadapan dengan anak-anak. Bisa dibayangkan betapa murid-murid Yesus menjadi tidak sabar manakala anak-anak menghampiriNYA. Anak-anak dianggap sebagai penghalang, belum mengerti apa-apa, mendengarkan anak-anak adalah suatu pekerjaan yang melelahkan dan membuat kita tidak sabar.

Menjadi Pendengar yang Baik adalah PINTU, sekali lagi PINTU untuk memasuki wilayah yang paling pribadi dimana kita bisa mengenal pribadi orang yang berkomunikasi dengan kita.
Menjadi Pendengar yang Baik berarti memungkinkan kita dapat mengetahui secara benar tentang apa dan bagaimana kebutuhan manusia yang paling mendasar.
Menjadi Pendengar yang Baik berarti memampukan kita untuk memberikan nasehat, terapi, informasi, pertolongan, pemenuhan kebutuhan secara benar dan akurat.
Menjadi Pendengar yang Baik berarti menggambarkan betapa dalamnya perhatian kita kepada Komunikan.
Menjadi Pendengar yang Baik berarti mencerminkan betapa tingginya tingkat kedewasaan kita dan betapa berkualitasnya kita.

b. Tinggalkan cara berkomunikasi yang salah. Kadangkala tujuan
yang baik jika dilakukan dengan cara yang salah akan menyebabkan
kegagalan untuk memperoleh apa yang kita inginkan atau tidak sesuai
dengan harapan, berikut beberapa contoh yang harus dihindari :

1. Cara berkomunikasi yang terkesan menggurui dan merasa paling benar
sendiri.
2. Cara berkomunikasi yang berlagak tahu, merasa paling tahu segalanya padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa.
3. Cara berkomunikasi yang menghakimi dengan menggunakan ayat ayat Firman Tuhan (Ingat ! Tuhanlah satu-satuNya Hakim)
4. Cara berkomunikasi yang menyinggung status sosial dan ekonomi.
5. Cara berkomunikasi yang meremehkan orang lain (arogan)
6. Cara berkomunikasi yang tidak obyektif dan tidak proposional dimana prinsip keadilan diabaikan.
7. Cara berkomunikasi yang hanya mementingkan penonjolan kepada diri sendiri atau kelompok denominasinya.
8. Cara berkomunikasi yang mempunyai motivasi terselubung, misalnya motif uang, menjilat untuk tujuan-tujuan tertentu.
9. Cara berkomunikasi yang menyinggung perbedaan SARA.
10. Cara berkomunikasi yang emosional, perdebatan, ketersinggungan kemarahan atau menimbulkan pertengkaran.
11. Cara berkomunikasi yang tidak jujur, penuh kebohongan, membual dan mengada-ada atau melebih-lebihkan sesuatu.
12. Cara berkomunikasi yang melemahkan semangat atau iman orang lain (tidak membangun).
13. Cara berkomunikasi yang tidak sopan, sarkasme atau sinisme.
14. Cara berkomunikasi yang terjebak kepada pergunjingan, gossip atau pencemaran nama baik orang lain.
15. Cara berkomunikasi yang cakap hanya mengurai masalah tetapi tidak memecahkan masalah (problem solving oriented).
16. Cara berkomunikasi yang monoton, kurang wawasan dan kurang berpengetahuan (un-educated).
17. Cara berkomunikasi yang tidak bisa menjaga kerahasiaan privasi atau persoalan seseorang (menyebarluaskan kepada orang lain).
18. Cara berkomunikasi yang berbelit-belit atau bertele-tele.
19. Cara berkomunikasi yang memaksakan kehendak sesuai dengan kepentingan diri sendiri atau kelompoknya.
20. Cara berkomunikasi yang monolog, menguasai pembicaraan dan tidak memberi kesempatan bicara kepada orang lain atau ingin cepat-cepat menyampaikan nasehat dan cepat-cepat menutup pembicaraan.
21. Cara berkomunikasi yang tanpa rasa empati, tanpa kasih sayang dan perhatian.
22. Cara berkomunikasi yang menimbulkan kebingungan atau kecemasan.
23. Cara berkomunikasi yang suka membanding-bandingkan.

4. SEMUA PERKATAAN ATAU PERNYATAAN YANG KELIHATANNYA
ROHANI BELUM TENTU ALKITABIAH.

Sebagai individu setiap orang mampu berbicara, memperkatakan atau memberikan pernyataan-pernyataan yang bersifat rohani, tetapi tidak semua orang tersebut hidupnya benar-benar rohani. Maknanya adalah Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati. Kebanyakan tanpa sadar orang cenderung menyembunyikan kehidupan yang sebenarnya tidak rohani yaitu dengan cara mengumbar perkataan atau pernyataan yang kelihatannya rohani. Beberapa contoh yang bisa kita saksikan di dalam kehidupan sehari-hari:

a. Banyak dari antara kita mungkin sering terkecoh dengan penampilan atau perkataan rohani dari seseorang, ternyata orang tersebut memang bertujuan untuk menipu kita misalnya dengan cara meminta imbalan sesuatu.

b. Beberapa Hamba Tuhan atau para konselor sering terjebak memberikan “jawaban standar” untuk semua persoalan yang disampaikan para konsili, yaitu: “kamu harus berdoa!”. Padahal tidak semua persoalan harus diberikan hanya dengan jawaban “Berdoa, Berdoa, Berdoa, dan Berdoa saja”. Kelihatannya jawaban tersebut sangat rohani dan menjadi satu-satunya “jalan keluar” dari semua persoalan, padahal ada aspek lain yang lebih substantif, yang sebenarnya tidak akan mengurangi makna dari Berdoa itu sendiri, misalnya Apa yang harus dilakukan setelah berdoa? Bagaimana caranya untuk memecahkan persoalan tersebut ?


Pernahkah Anda menjumpai di Alkitab, dimana Yesus pada waktu berhadapan dengan begitu banyak orang yang mempunyai persoalan, Yesus memberikan jawaban : “Kamu harus berdoa, berdoa, berdoa dan berdoa!!!” misalnya : “Hai Bartimeus yang buta, berdoa dong.. biar kamu sembuh !! “Hai wanita yang sakit pendarahan, berdoa dong kepada Tuhan Allahmu supaya engkau menjadi sembuh !! dan lain-lain.


Pernahkah Yesus melakukan hal itu ???? TIDAK, sekali lagi TIDAK ! Tuhan Yesus selalu memberikan “JALAN KELUAR”, DIA langsung bertindak (ingat!) DIA langsung BERTINDAK, menyembuhkan sakit penyakit itu (langsung menyelesaikan inti persoalan). Lalu yang jadi pertanyaan adalah bagaimana dengan kita ? Yesus bisa langsung bertindak karena memang DIA adalah Tuhan yang bisa menyembuhkan dan bisa menyelesaikan semua persoalan.

Lalu apakah kita bisa melakukan seperti apa yang Yesus lakukan ?
Bagaimana caranya ? Jawabannya: “Ya, atas KehendakNya kita bisa melakukan apa yang Yesus lakukan” Caranya adalah, kita harus ingat bahwa Yesus adalah Teladan bagi kita, yang pantas dan patut untuk dicontoh. Kalau orang datang dengan persoalan justru kita yang harus berdoa bagi penyelesaian persoalan orang tersebut. Berdoalah dengan penuh keyakinan yang kokoh kepada Tuhan dan mintalah Hikmat Tuhan untuk memberikan nasehat, jalan keluar, semangat sekaligus memberikan langkah-langkah atau cara bagaimana menyelesaikan persoalan orang yang bersangkutan.Yang harus di sampaikan adalah “Jalan keluar, jalan keluar dan jalan keluar”.

5. DINAMIKA BERKOMUNIKASI dari waktu ke waktu selalu di pengaruhi oleh perubahan jaman atau seiring dengan perkembangan semua bidang di tengah-tengah masyarakat. Hal tersebut menggambarkan betapa luasnya dan dalamnya dunia komunikasi tersebut, bahkan di alam kekekalan di Sorga yang Mulia pun, komunikasi akan terus berlangsung antara TUHAN dengan UmatNya. Nilai kekekalan itulah yang harus kita pahami agar kita jangan pernah berhenti untuk terus belajar berkomunikasi. Ada jargon yang disampaikan oleh para futurolog (futurist) yaitu; “Orang yang menguasai Informasi akan menguasai dunia” Mulai dari Alvin Toffler sampai John Naisbitt telah meramalkan bahwa sekarang ini adalah Abad Informasi, abad yang mencengangkan dimana dunia saat ini menjadi dunia tanpa batas (global), menjadi “satu atap” dan mengerucut kepada satu kesadaran bersama tentang “How to live together”, hidup berdampingan dalam jarak komunikasi yang tanpa batas. Dalam detik kita bisa berkomunikasi dengan orang lain di belahan bumi yang lain.

Alvin Toffler dalam bukunya yg berjudul, “Future Shock” khususnya buku“The Third Wave” yang terbit pada tahun 1970-an telah membagi perkembangan masyarakat menjadi 3 gelombang yaitu : Masyarakat Agraria, Masyarakat Industri dan Masyarakat INFORMASI.
John Naisbitt (mantan eksekutif IBM) menulis buku “Megatrends” (1982) yang lebih menggambarkan secara ‘point to point’ apa yang diramalkan oleh Alvin Toffler mengenai 3 gelombang perkembangan masyarakat dunia. Bahkan saat ini John Naisbitt telah menuliskan suatu analisa yang mendalam mengenai salah satu bab di dalam bukunya (“Megatrends”) yaitu mengenai “Hi Tech/Hi Touch” Inti dari dalil “Hi Tech/ Hi Touch” tersebut berbunyi demikian: “Persoalannya sekarang ini adalah bukan bagaimana memanfaatkan kemajuan
teknologi akan tetapi bagaimana agar kehidupan kita tidak dikuasai oleh teknologi” (biasa disebut dengan istilah ‘mabuk teknologi’).

Melihat dinamika yang begitu cepat khususnya di dalam dunia komunikasi maka sudah seharusnya kita membuka diri (open minded) terhadap perkembangannya dan memanfaatkan secara maksimal potensi yang Tuhan anugerahkan kepada kita agar kita sebagai anak-anak ALLAH dapat ‘menjangkau dunia’ (to reach people) demi keselamatan umat manusia dan menjadi yang terdepan di dalam segala hal.

Informasi dan Komunikasi adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan karena informasi tanpa dikomunikasikan akan menjadi “sesuatu yang tak berharga” sedangkan Komunikasi tanpa Informasi akan menjadi “sesuatu yang tak bermakna”. Setidaknya ada 3 hal yang mempengaruhi dinamika berkomunikasi yang dapat kita pelajari utk lebih memahami Komunikan (Dengan siapa kita Berkomunikasi ?)

a. Aspek GEOGRAFIS. Batasan kewilayahan, daerah dan kependudukan dengan segala elemen yang ada di dalamnya sangat mempengaruhi bagaimana kita berkomunikasi. Cara berkomunikasi di suatu wilayah akan berbeda dengan wilayah lainnya baik sarana maupun prasarana komunikasi yang dibutuhkan. Masing-masing daerah juga memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Orang Irian Jaya akan berbeda cara berkomunikasinya dengan orang yang tinggal di Jakarta.

b. Aspek DEMOGRAFIS, meliputi : Jenis kelamin, pekerjaan, S.E.S (Social economic status), religion, kelahiran(usia) dan elemen lainnya.
Aspek demografis akan semakin memperjelas “Dengan siapa Anda berkomunikasi ?” dan “Bagaimana berkomunikasi dengan mereka ?”
Namun hal yang paling terpenting adalah bahwa kita tidak boleh membatasi diri dengan siapa kita berkomunikasi atau memilih-memilih dengan motivasi tertentu dengan siapa kita akan berkomunikasi. Begitu banyak orang yang gagal menjadi saksi Kristus karena terjebak kepada diskriminasi aspek demografis khususnya dalam hal status ekonomi dan sosial.

Tuhan Yesus di dalam berkomunikasi tidak pernah membeda-bedakan, siapa saja orang yang ditemuinya entahkah orang kaya atau miskin, pria atau wanita, sehat ataupun sakit, tua atau muda, rakyat atau pejabat, tertindas atau tidak tertindas pokoknya siapapun yang dijumpaiNya, pasti akan tampak terlihat Yesus sangat cakap berkomunikasi dengan mereka (down to earth) bahkan mereka pasti akan mendapatkan “sesuatu” melalui kehadiran Yesus.

c. Aspek PSIKOGRAFIS, berasal dari kombinasi antara aspek Geografis dengan aspek Demografis yang telah diuraikan secara sosial akhirnya menjadi sesuatu yang melampaui kedua aspek yang bersifat lahiriah tersebut, yaitu aspek “kejiwaan” dimana didalamnya terdapat Pikiran dan Perasaan. Aspek Psikografis selalu berorientasi kepada apa yang dipikirkan dan apa yg dirasakan oleh orang pada waktu itu, rasa senang, rasa puas dan lainnya.


Aspek Psikografis meliputi : Gaya hidup, hobby, kesenangan dan hal-hal lain yang bersifat apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan, sebagai contoh : “Di Bali saya bertemu dan berbicara dengan Seorang Pria berusia 30 tahun beragama Kristen seorang Pengusaha dengan penghasilan pertahunnya mencapai 10 milyar dan dia adalah seorang yang senang berbelanja dan berolahraga”.

Jika kita urai kalimat tersebut di atas maka akan menjadi :
Di Bali… = Aspek Geografis.
Seorang Pria, 30 tahun, Kristen, Pengusaha, penghasilan 10 milyar/tahun adalah Aspek Demografis.
Yang senang berbelanja dan berolahraga adalah Aspek Psikografis.

Aspek Psikografis akan semakin memudahkan para konselor maupun pengkhotbah untuk dapat mengerti kebutuhan para konsili atau audience yang sebenarnya bahkan para konselor/pengkhotbah dapat memberikan nasehat, terapi, pertolongan dan lain-lain secara akurat dan tepat guna.

Demikianlah makalah ini saya sampaikan kepada Anda dengan harapan kita dapat lebih memahami bahwa ternyata kita masih terlalu sedikit untuk memberi, masih terlalu sedikit untuk berbuat sesuatu dan masih terlalu kecil untuk memberi arti terhadap tugas-tugas pelayanan kita kepada Tuhan yang telah memberikan yang terbaik, terbanyak, teristimewa, terbesar dan termanis di dalam kehidupan kita.

Bernard Siswoyo Prawirorahardjo

Pekerjaan:

a. Pembicara, diberbagai acara dan kalangan.
b. President Director, PT KERUBIM INDONESIA (Printing-Advertising-Interior Design-Architecture)
c. Chairman, Yayasan KERUBIM (Ministries-Training & Education-Studio-Literature-Management)
d. Chairman, KERUBIM BIBLE HOUSE. (Bibles-Books-Magazines-Audio/Video Materials-Gifts)
e. Host program Talk Show- “SIARAN TUBUH KRISTUS” di FM 96.35 RPK (setiap Selasa pkl 20.00 –21.00 WIB)
f . Dosen Tamu 1. Sekolah Misi dan Penginjilan Gereja Bethel Indonesia
2. WLII (WAGNER LEADERSHIP INSTITUTE INDONESIA)

Next Story : Mesir Keluarkan Keputusan Melarang Diskriminasi

More news in opinion

Pembangunan Gereja di Cirebon Diprotes Warga

Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.

Terpopuler

Headlines Hari ini