Setiap kali memasuki tahun baru, selalu ada rasa was-was. Selalu muncul pertanyaan, akankah terjadi kemajuan di tahun akan datang? Ada yang optimistis. Ada pula yang pesimis. Semua bergantung pada keadaan jiwa kita, pengalaman-pengalaman pribadi kita, dan juga keyakinan iman kita. Itulah unsur yang membentuk sikap kita menghadapi dan meneropong masa depan. Berpengharapan atau berputus asa!
Dermot Lane membedakan dua dimensi pengharapan, yaitu dimensi interior dan eksterior (Keeping Hope Alive, 1996). Pengharapan tidak hanya lahir dari suasana batin kita, tetapi juga dipengaruhi perjumpaan kita dengan dunia di luar diri kita. Suasana batin dan kondisi masyarakat-dunia, saling mempengaruhi membentuk sikap kita terhadap masa depan. Namun, ada lagi unsur yang tak kalah penting, yaitu kepercayaan kepada penguasa, penentu kebijakan dalam kehidupan masyarakat.
Pengharapan selalu mengandung unsur sementara dan permanen. Karl Rahner (The Question of the Future, 1974), membedakan pengharapan kategoris (masa depan duniawi) dan pengharapan transendental (masa depan mutlak). Sedangkan Joseph Pieper (Hope and History, 1969) membedakan antara pengharapan historis (des espoirs) dengan pengharapan fundamental-primordial (l'esperance).
Menurur Pieper, pengharapan primordial justru lahir dari kekecewaan terhadap pengharapan historis. Baik sebagai warga bangsa maupun sebagai umat beriman, kita perlu meyakinkan, kita tidak menggantungkan diri pada pengharapan sementara atau pengharapan kategoris atau historis semata melainkan dan terutama pada pengharapan permanen, pengharapan transendental atau pengharapan primordial.
Sebagai orang beragama atau beriman, tentulah yang paling utama adalah keyakinan iman yang dapat kita sebut sebagai pengharapan permanen, pengharapan transendental, pengharapan fundamental. Keyakinan iman membentuk sikap kita dalam menyikapi kehidupan, memperkuat batin kita dan menolong kita merespons dengan positif dan konstruktif situasi apa pun yang dihadapi.
Kiranya itulah yang paling penting dalam hidup ini: keyakinan kepada Tuhan membentuk keyakinan diri! Inilah hakikat kehidupan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beragama, beriman kepada Tuhan!
*
Pengharapan historis dan kategoris mudah sekali pupus. Bagi kita di Indonesia saat ini, pengharapan yang lahir dalam jiwa setiap orang seperti pupus teraniaya oleh kenyataan-kenyataan di tengah masyarakat. Krisis multidimensi berkepanjangan sangat menyengsarakan banyak orang, khususnya rakyat kecil. Angka pengangguran yang terus membengkak menyebabkan hilangnya kepastian tentang jaminan hidup setiap hari, apalagi untuk masa depan.
Harga-harga yang terus melambung tinggi atau meroket mematikan daya beli masyarakat. Kemiskinan terus mendera, kelaparan menyiksa banyak bayi dan anak-anak balita. Banyak yang mengidap busung lapar, kekurangan gizi, bahkan sebagian meninggalkan dunia ini sebelum sempat menikmati hidup di dunia fana ini.
Bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, banjir, dan longsor yang telah menelan ratusan ribu korban di seluruh penjuru Tanah Air silih berganti mendera. Bencana alam diperparah lagi oleh bencana buatan manusia yang menyebabkan terjadinya konflik dan perseteruan dalam masyarakat baik yang berlatar belakang politik, maupun yang berlatar belakang sosial, ekonomi, dan agama.
Krisis multidimensi, pengangguran, harga-harga meroket, bencana alam dan bencana buatan manusia; tali-temali melindas dan menyengsarakan rakyat. Kita hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran dan kecemasan bahkan ketakutan. Kepada siapa rakyat mengarahkan percaya dan asa?
Tentu kepada penguasa yang mengurus kehidupan bangsa ini. Pemerintah, wakil-wakil rakyat dan pengawal keamanan dan hukum. Namun, kepercayaan kepada penguasa semakin melemah. Alih-alih berjuang memperbaiki kondisi yang buruk, mereka lebih sering berjuang untuk kepentingan diri sendiri. Gaji yang sudah besar terus diperbesar, sementara sumber pendapatan rakyat kecil terus merosot.
Kebijaksanaan lebih banyak merugikan rakyat daripada menguntungkannya. Impor beras yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional malah mematikan harga produk petani sendiri, membuat petani yang mayoritas semakin miskin. Kompensasi kenaikan harga BBM malah menimbulkan ketidakadilan terhadap rakyat paling kecil dan menyuburkan korupsi birokrasi dari tingkat paling atas sampai tingkat paling bawah.
Yang paling banyak mendapat dana kompensasi adalah mereka yang berduit. Konflik di berbagai tempat tidak bisa diatasi tuntas. Di Poso, rakyat berserah kepada nasib, ya putus asa!
*
Tahun baru, harapan baru, perjuangan baru. Tahun baru adalah karunia Tuhan, maka tahun baru adalah momentum untuk bangkit lagi, memulai lagi sesuai makna pengharapan yang hakiki.
Pengharapan yang hakiki, menurut Theodore Roethke, justru lahir dari kesengsaraan: "In a dark time, the eye begins to see." Kegelapan hidup membang-kitkan pengharapan.
"Habis gelap terbitlah terang", demikian kata Kartini. Yang lebih tegas adalah Firman Tuhan: "Dari dalam gelap akan terbit terang!" (II Korintus 4:6). Dari dalam gelap, artinya gelap itulah yang menjadi sumber terang. Kesengsaraan itu menjadi sumber pengharapan.
Bagi orang beriman kepada Tuhan, penderitaan itu justru harus dilihat sebagai sumber pengharapan: "Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Roma 5:3-5).
Pengharapan adalah bahasa agama dan sering dikaitkan dengan masa depan di balik kehidupan di dunia ini. Dalam semua agama samawi, pengharapan kadang kala dikaitkan dengan berakhirnya dunia yang sekarang dihidupi dan datangnya dunia baru yaitu surga tempat kesenangan dan ketenteraman abadi. Tempat penuh damai dan sejahtera tanpa kesengsaraan, tanpa tangis dan air mata, tanpa kelaparan dan kesusahan.
Pengharapan lahir dari kondisi masa kini yang tidak memuaskan, karena itu pengharapan mengandung semacam kritik terhadap masa kini dan menjanjikan mimpi dan visi baru. Pengharapan mengilhami kemungkinan, suatu alternatif. Namun, pengharapan agama tidak boleh dipahami hanya dalam batas-batas apokluptik, pengharapan di dunia seberang. Kalau pengharapan hanya terkait dunia seberang seolah pengharapan menjadi semacam fuga mundi (terbang dari dunia), melarikan diri dari kenyataan.
Pengharapan yang ditafsirkan sebagai pelarian sama dengan yang dikatakan Karl Marx: "agama menjadi opium, menjadi candu (pelarian) dari kenyataan". Pengharapan menurut keyakinan agama justru sebaliknya, mendorong kita berkaya dan berjuang mengatasi kenyataan-kenyataan pahit dan sulit. Pengharapan justru mendorong orang berjuang mengatasi kenyataan yang mengecewakan kini dan di sini.
Jürgen Moltmann, penulis buku Theology of Hope (1960) mengatakan pengharapan mengandung unsur transformatif. Artinya, dengan adanya pengharapan, ada kesediaan mengubah masa depan. Tanpa pengharapan, tidak ada dorongan berjuang untuk masa depan. Maka pengharapan adalah kunci menghadapi masa depan.
Gabrieal Marcel (Homo Viator: Introduction to a Methaphycics of Hope,1951) mengatakan: "Tidak akan ada pengharapan kecuali ketika lahir pencobaan akan keputusasaan. Pengharapan adalah tindakan mengatasi secara aktif dan jaya pencobaan tersebut". Pengharapan mengandung tindakan. Kita melakukan apa yang kita harapkan.
Atau seperti yang dikatakan Dermot Lane: "I do what I hope, I hope what I do". Kita tidak mengharapkan perubahan dari langit, walaupun Tuhan berkuasa mengubah hidup kita dan dunia ini. Berpengharapan berarti bermodalkan percaya kepada Tuhan kita bertekad menghadapi dan mengatasi tantangan-tantangan dalam hidup, bertindak mengubah hidup di dunia ini.
*
Bagaimana pengharapan seperti ini dapat terwujud? Mewujudkan pengharapan membutuhkan sikap konstruktif. Pertama adalah hidup gembira/sukacita. Kegembiraan hidup akan selalu menjaga keseimbangan jiwa. Kegembiraan menciptakan suasana batin yang kondusif untuk terus berjuang. Orang yang bekerja sambil bergembira dan bersorak akan me- rampungkan pekerjaannya tanpa merasa kehilangan waktu. Sebaliknya, orang yang bersungut tak pernah dapat mewujudkan harapannya. Kesedihan dan kemarahan harus disingkirkan dari bangsa ini supaya kita bisa menemukan momentum perjuangan yang penuh pengharapan.
Kedua, rasa bermakna/ berguna sebagai manusia. Orang yang merasa tidak berguna/bermakna cenderung tidak menghargai dirinya sendiri. Setiap orang perlu menyadari, hidupnya sungguh bermakna/berguna, sehingga termotivasi untuk terus berjuang. Maka saling menghargai menjadi salah satu kiat mewujudkan pengharapan. Terutama penguasa perlu menghargai rakyat dan karya-karya rakyatnya.
Ketiga, pengampunan/pemaafan. Kekecewaan banyak disebabkan ulah orang lain, terutama orang yang kita percayai menopang hidup dan perjuangan kita. Kekecewaan sering tumbuh menjadi keputusasaan dan hilangnya kepercayaan. Supaya ada transformasi dan perubahan yang membawa harapan, kekecewaan harus diatasi dengan pengampunan, pemaafan. Itu makna seremoni agama dalam hidup orang beriman.
Idul Fitri, Natal, Waisak dan seterusnya kita maknai dengan saling memaafkan dan saling mengampuni supaya ada permulaan baru. Perayaan tahun baru pun kita maknai dengan saling mengucapkan selamat dan permohonan maaf.
Keempat, perubahan diri. Kita tidak dapat mengharapkan perubahan situasi apa pun tanpa kesediaan mengubah diri. Dengan memaafkan, kita bersedia mengoreksi dan memperbaiki diri kita. Termasuk juga kesediaan penguasa mengubah paradigma kebijakan-kebijakan mereka.
Kelima, dan yang paling utama adalah persahabatan dan kasih. Dengan persahabatan dan kasih kita secara bersama dapat mengatasi beban apa pun yang kita hadapi. Inilah faktor terpenting dalam meraih kembali pengharapan akan masa depan Indonesia di tahun 2006.
Kita perlu memperkuat persahabatan dan solidaritas sebagai penemuan kembali potensi dan harapan bangsa. Kita menyongsong Tahun Baru 2006, dengan semangat baru, pengharapan baru dan perjuangan baru meraih kehidupan bangsa yang lebih baik.
Kita tidak boleh putus asa, kita harus berpengharapan! Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita! Selamat menyongsong Tahun Baru 2006! *
Penulis adalah Ketua Sekolah Tinggi Teologi Jakarta
Sumber: Suara Pembaruan
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.