Belum lama ini, Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri mengingatkan menjadi pemimpin seharusnya tidak tipis telinga (thin-skinned). Dengan kata lain, pemimpin harus tebal kuping, tidak alergi menghadapi kritik. Tetapi melaksanakan tidak segampang mengucapkannya. Karena umumnya, setiap orang, terutama para pemimpin dari yang terendah sampai yang tertinggi tidak me-nyukai kritik, kendati kritik merupakan hal yang diperlukan untuk memperkuat demokrasi. Kita (pemimpin) cenderung menginginkan pujian dan kehormatan daripada dipersalahkan dan diprotes. Kita sangat senang jika kita dipuji atas pekerjaan kita. Sebaliknya, kita merasa tidak senang jika pekerjaan kita dikritik. Tetapi, pujian adalah racun tersembunyi, sedangkan kritik adalah pu-jian tidak langsung. Sebenar-nya, kritik itu sangat dibutuhkan untuk jangka panjang proses demokratisasi dalam sebuah Negara. Kritik mencegah kepemimpinan otoriter dan mental ABS (Asal Bapak Senang), yang merupakan musuh demokrasi.
Memang, tidak ada orang yang kebal terhadap kritik. Ketika kita dikritik, emosi kita seolah berkobar, marah atau sedih. Kita ingin membela diri, menjelaskan betapa tidak adilnya pengkritik itu. Tetapi tidak dapat dipungkiri, pemimpin selalu menjadi target kritik. Presiden George Washington yang merupakan bapak bangsa Amerika dikritik demikian: “Dia tidak lebih dari seorang pembunuh, berkhianat terhadap sahabatnya, seorang yang munafik di hadapan publik, seorang gadungan yang merasa memiliki prinsip-prinsip yang baik padahal tidak.” Abraham Lincoln, presiden legendaris Amerika, dikritik dengan lebih hebat lagi: “Presiden Lincoln adalah seorang badut rendahan yang licik. Dia gorila yang sesungguhnya. Mereka yang mencari seekor Yeti sampai ke pedalaman Afrika adalah bodoh sebab mereka bisa menemukannya di Springfield, Illinois.” Jika pemimpin seperti George Wa-shington dan Abraham Lincoln mendapat kritik sedemikian beratnya, tidak heran jika kita sebagai pemimpin menjadi taget yang empuk untuk dikritik. Hanya ada satu cara untuk terhindar dari kritik yaitu: jangan katakan apapun, jangan lakukan apapun, dan jangan menjadi apapun (do nothing, say nothing, be nothing). Dengan kata lain jika anda tidak kuat menghadapi kritik, jangan menjadi seorang pemimpin.
Dalam menjalankan tugas, Yesus juga kerap kali menghadapi kritik. Para pemimpin Yahudi (Farisi, Ahli Taurat, dan Imam Kepala) mengkritik Yesus, karena sangat iri dengan pelayanan Yesus yang penuh cinta kasih, sehingga banyak orang Yahudi menjadi pengikutNya. Ketika berdebat dengan para pemimpin Yahudi, mereka mengatakan: Engkau kerasukan setan (Yoh 7: 20). Walau Yesus mengajarkan dan berbuat hal-hal yang baik, namun respons mereka sangat negatif. Sulit untuk dimengerti, ketika dengan penuh belas kasihan Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang miskin di tepi sungai Bethesda. Ketika itu, para pemimpin Yahudi justru menjadi geram (Yoh 5:1-18). Mereka sangat iri, sebab Yesus melakukan perbuatan yang sangat menakjubkan tepat di hadapan mereka. Sering kali pemimpin dibenci karena alasan yang tidak jelas. Dalam Yoh 15:25 Yesus berkata: Mereka membenci aku tanpa alasan.
Berikut adalah tiga metode menangani kritik. Pertama, kita harus mampu membuat peta mengenai organisasi yang kita pimpin. Biasanya, ada tiga jenis karakter orang-orang yang ada di bawah pimpinan kita. Sepuluh persen dari mereka selalu menentang, mengkritik dan bahkan ingin menjatuhkan kita. Apapun yang kita katakan atau lakukan, mereka tetap saja memandang dengan kacamata negatif.
Tidak perlu seorang pemimpin menghabiskan energi menghadapi kelompok, yang bahasa agamanya, mereka ini adalah “pembimbing spiritual” kita. Karena kritik mereka membuat kita sadar bahwa kita adalah manusia biasa yang perlu mendapat kekuatan spiritual dari Yang Maha Kuasa. Sepuluh persen yang kedua adalah kelompok yang selalu mendukung kita dalam tugas dan pekerjaan. Mereka ini sepertinya sudah ditempatkan Tuhan menjadi penasehat, pendukung, dan orang kepercayaan kita. Mereka sangat percaya kepada kita sebagai pemimpin sehingga mereka tanpa pamrih mendukung kita. Tetapi jumlah mereka hanya sekitar sepuluh persen. Sisanya, delapan puluh persen adalah orang-orang yang netral, yang membutuhkan kepemimpinan kita.
Seorang pemimpin seharusnya fokus untuk yang delapan puluh persen ini. Tetapi, yang sering terjadi, para pemimpin memberi perhatian dan waktu yang lebih pada para lawannya, yang notabene hanya sepuluh persen (minoritas yang vokal), sehingga tugas pokok untuk melayani kepentingan mayoritas (yang delapan puluh persen) yang disebut rakyat, terbengkalai. Rakyat ini sangat “netral”. Tetapi sekali mereka bangkit melawan pemimpinnya, pastilah pemimpin itu jatuh.
Kedua, dalam menangani kritik (minoritas yang vokal) kita harus mengikuti teladan Eleanor Roosevelt. Dia mengatakan, “Jangan peduli akan berbagai kritik sepanjang Anda yakin dengan sungguh bahwa Anda berjalan di jalur yang benar.” Satu-satunya jalan menghadapi kritik, menurutnya, ialah dengan berdiri teguh bak sebuah patung. “Jalankan kepemimpinan sesuai dengan keyakinan Anda. Karena apapun yang Anda lakukan, Anda pasti dikritik. Ketika Anda melakukan hal yang benar, Anda akan dikritik. Ketika Anda tidak melakukan hal yang benar, Anda juga disalahkan.” Prinsip inilah yang disebut dengan payung kritik untuk menyelamatkan kita dari hujan kritik.
Ketiga, ketika kita dikritik ketika melakukan kesalahan, belajarlah dari kritik tersebut agar tidak mengulangi kesalahan. Ketika kita dikritik padahal benar, kita harus mengingat bahwa hanya ada satu pemimpin yang sempurna. Dia adalah Yesus, dan mereka juga mengkritikNya n
* Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.