Hampir dua minggu setelah gempa berskala 6.3 richter mengguncang Yogyakarta, perkiraan menunjukkan ketersediaan makanan dan penanganan kesehatan menjadi kepedulian utama bagi para korban.
Komunitas yang dipengaruhi oleh peristiwa gempa 27 Mei tersebut telah menyatakan bahwa mereka sangat concern akan ketersediaan makanan dan penanganan kesehatan untuk anak-anak kecil.
"Anak-anak selalu mengatakan kedinginan, seringkali menangis di malam hari dan takut akan suara-suara yang asing," kata Regeng, ibu dari tiga anak.
World Vision, yang merespon gempa segera setelah kejadiannya, telah menyediakan tujuh komunitas berbasis klinik kesehatan di seluruh tujuh sub-distrik dengan bubur bayi dan biskuit high enegy untuk anak-anak dibawah lima tahun, yang mana akan menerima lebih dari 6.300 anak pada hari-hari mendatang.
Organisasi Kristiani berencana untuk mendirikan Child Friendly Space (CFS) dalam minggu ini dan beberapa lagi akan dibuka diminggu-minggu yang akan datang. CFS adalah program yang membuat anak-anak dapat mengekspresikan perasaan mereka lewat permainan dan aktivitas dan dimana mereka disemangati untuk kembali pada kehidupan rutin. Alat-alat bantu juga sedang dipersiapkan untuk anak-anak dan akan termasuk item-item seperti buku, pensil, sendal, kotak makan siang dan sikat gigi.
Sebagai tambahannya, kerjasama baru antara World Relief (WR) dengan United Nation World Food Program (WFP) juga akan membantu menangani masalah makanan. WR melaporkan pada hari Senin bahwa mereka telah menandatangani kesepakatan dengan WPF untuk mendistribusikan makanan kepada sekitar 9.984 orang di desa Muruh, Gantiwarno, sub distrik di Klaten, Yogyakarta. Sasaran mereka adalah para keluarga yang kehilangan rumah dan mereka yang tidak memiliki akses untuk mendapatkan sumber makanan.
Dibawah perjanjian ini, WFP akan menyediakan 111 ton makanan termasuk beras, biskuit berenergi, dan mie instant, untuk dibagikan kepada World Relief selama periode dua bulan mulai Juni sampai Juli. Rasio harian per kapita untuk didistribusikan adalah 200 gram nasi, 167 gram mie instant dan 150 gram biskuit.
"Kerjasama ini akan menjamin supply makanan yang stabil, khususnya pada saat ini dimana daya beli dan sumber makanan mereka telah amat terganggu," kata Galen Carey, Pimpinan World Relief Partnership, setelah menandatangani perjanjian.
Pada Senin hari, pemerintah Indonesia merevisi total jumlah kematian akibat gempa menjadi 5.782 orang. Sementara, dari sekitar 600.000 orang yang menjadi tunawisma karena gempa 27 Mei lalu, sepuluh ribu orang masih belum menerima kain terpal atau tenda. Jumlah kehilangan rumah adlah hampir dua kalinya dari jumlah yang kehilangan di Aceh saat tsunami 2004 lalu.
World Vision telah mendistribusikan kain terpal sebagai naungan dan tempat perlindungan.
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.