Upaya Menepis Mitos Buruk Kerjasama Kemanusiaan Antar Kelompok Amal Berbasis Kepercayaan
Jennifer Gold Koresponden Kristiani Pos
Posted: Dec. 05, 2008 23:06:24 WIB
“Kami hanya berusaha untuk dapat mengakhiri kemiskinan bekerjasama dengan orang-orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda dengan kami – untuk itu, mari kita lakukan dengan baik,”kata Manajer Christian Aid’s Inter-Community Initiatives , Nigel Varndell, pada saat mengikuti konferensi kerjasama kemanusian antar kepercayaan minggu ini.
Varndell adalah salah seorang di antara pengambil inisiatif kunci dalam konferensi bertajuk Keeping Faith in Development di Cambridge, yang mengikutsertakan para Relawan Kristiani, organisasi amal Islam dan organisasi amal Yahudi sedunia diantara berbagai organisasi amal dari berbagai keyakinan yang berbeda lainnya dalam suatu perdebatan tentang bagaimana seharusnya organisasi amal bekerja dengan orang-orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda.
Topik utama tersebut dibahas pasca pembunuhan seorang pekerja amal Kristen Gayle Williams di Afganistan, Oktober lalu. Kelompok Taliban mengku bertanggungjawab atas pembubuhan tersebut dan mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan sebagai bentuk hukuman bagi Gayle karena telah menyebarkan ke-Kristenan.
“Kami ingin menepis mitos bahwa kami hanya mau bekerja dengan orang-orang yang seiman dengan kami saja. Kami juga ingin meyakinkan semua orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda mengenai nilai dari kerjasama yang terjalin antar kepercayaan yang berbeda, dan saling berbagi contoh-contoh praktis yang terbaik,”tegas Varndell.
Wakil Menteri Parlementer Negara bidang Pembangunan, Ivan Lewis, mengatakan bahwa dirinya percaya bahwa 60 orang delegasi amal yang berlandaskan kepercayaan itu memiliki kontribusi khusus dalam upaya menciptakan suatu perkembangan kerjasama internasional. Serta membantah identitas mereka sebagai orang percaya, sesungguhnya yang membantu mereka untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat lokal dengan kelompok beragama.
Dia juga mendesak makin berkembangnya organisasi yang berdasarkan agama untuk lebih lagi melakukan sesuatu guna menyediakan bantuan kepada negara-negara miskin dalam agenda umumnya, akan tetapi juga memperingatkan keefektifan bantuan untuk dapat terus meningkat di bawah berbagai kritikan tajam.
“Kami memiliki tanggungjawab untuk mengupayakan efektifitas yang maksimal,”ujar Lewis.
Para peserta juga dihimbau untuk dapat saling membagikan rencana bantuan mereka dengan para pemimpin agama setempat serta ikut mendengarkan respon mereka. Mereka juga disarankan untuk lebih terbuka dengan komunitas setempat tentang identitas organisasi mereka yang berdasarkan kepercayaan dengan baik untuk dapat memberikan jaminan di masa depan bahwa mereka dapat mengerti budaya dan tradisi dari komunitas dimana mereka berencana bekerja di dalamnya.
Konferensi tersebut meliputi juga presentasi mengenai bidang-bidang dimana mereka ikut ambil bagian dalam pemberian amal, termasuk sebuah proyek bantuan perdamaian sebuah organisasi amal Kristiani dimotori oleh organisasi Muslim si Ummah fi Salaam bermitra dengan sebuah NGO Katolik di daerah konflik Mindanao di Filipina.
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.