Uskup Desmond Tutu: Memaafkan adalah Kunci Penyelesaian Konflik
Posted: Oct. 24, 2007 21:09:36 WIB
Uskup Agung Afrika Selatan, Desmond Tutu, saat berpidato di Omaha, Nebraska dalam konferensi perdamian Darfur, Selasa (23/10), mengatakan dirinya terkesan atas upaya pekerja bantuan menolong para pengungsi walau dengan kondisi terbatas dan menegaskan bahwa saling memaafkan adalah kunci penyelesaian konflik.
¡°Penting bagi kita untuk melihat kebaikan-kebaikan di dunia ini karena orang cenderung terlalu memfokuskan pada kejadian-kejadian negatif,¡± katanya seperti diberitakan The Associated Press.
Pemenang hadiah Nobel perdamaian itu juga menekankan pentingnya memberi maaf untuk meningkatkan hubungan antar-pribadi and hubungan geo-politik.
¡°Terdapat tiga cara merespon konflik: membalas dendam, mengabaikannya atau memaafkannya,¡± kata Tutu.
Balas dendam, lanjutnya, mungkin akan membawa kepuasan dalam jangka pendek, tapi akan memberikan rasa bersalah berkempanjangan.
Ia menegaskan apa yang pernah terjadi di Irlandia Utara, Israel-Palestina, Bosnia dan Rwanda, merupakan contoh balas dendam itu.
¡°Lingkaran dendam itu akan terus berputar hingga satu hari ada yang mengatakan: cukup, sudah cukup,¡± katanya.
Memaaafkan, tambahnya, merupakan jalan terbaik dalam menangani kesalahan di masa lalu. ¡°Tapi ini tidak mudah,¡± tegasnya. Memaafkan memberi kesempatan awal baru dan kesempatan untuk mengakhiri siklus kekerasan. ¡°Kita akan selamat jika kita berjalan di jalan maaf,¡± katanya.
September lalu, Tutu memimpin delegasi ¡®pencipta perdamaian¡¯ yang terdiri dari pemimpin dunia dan peraih Nobel, yang digagas mantan Presiden Afsel Nelson Mandela untuk kunjungan ke Sudan. Kelompok ini bertemu dengan para pemimpin Sudan, pemimpin pemberontak dan para pengungsi.
Lebih 200.000 orang telah tewas di Darfur dan 2,5 juta lainnya kehilangan tempat tinggal akibat pertempuran antara kelompok-kelompok pemberontak dan milisi dukungan pemerintah Sudan.
Tutu dikenal sebagai pemimpin Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika Selatan yang dibentuk untuk membantu negara itu ¡®sembuh dari luka-luka kekerasan di masa lalu¡¯.
Ia meraih nobel perdamaian 1984 dan hingga kini berjuang untuk kepentingan orang-orang tertindas. (Analisa)
Hakim Iran menjatuhkan hukuman bagi dua tahanan perempuan yang pindah agama atas "kejahatan" kemurtadan dan iman Kristiani, lapor sebuah kelompok hak ...