Pemimpin Katolik Roma Paus Benediktus XVI, mengakhiri kunjungannya ke Brasil minggu lalu dengan sebuah kotbah dimana dia mengecam jurang yang semakin lebar antara kaya dan miskin di Amerika Latin.
Paus membawa kepedulian ini untuk Gereja-nya dan mendesak para uskup Amerika Latin untuk lebih berjuang menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapi Gereja Katolik Roma.
Seruan itu muncul saat ia mengakhiri kunjungannya selama lima hari ke negara itu, dimana Paus Benediktus berharap dapat membangkitkan kembali Gereja Katolik di sana.
Pada hari Minggu, Paus memimpin sekitar 150.000 orang dalam misa tradisional Katolik di luar Basilika Ibu Kami Aparecida. Meskipun yang berkumpul sangat banyak, namun jumlah itu tidak memenuhi perkiraan pihak gereja sebesar 500.000 orang, dan ini mengungkapkan masa-masa sulit yang sedang dihadapi Gereja itu.
Diperkirakan lebih dari 60 persen orang Brasil adalah anggota Gereja Katolik Roma, meski juga diperkirakan Gereja Katolik kehilangan 10 persen keanggotaannya sejak dekade yang lalu.
Meskipun turun, Brasil tetap menjadi rumah bagi sebagian 1,1 milyar pemeluk Katolik di dunia.
Menutup kunjungannya, Paus Benediktus berkomentar bahwa baik Marxisme dan kapitalisme sangat berbahaya bagi Amerika Latin, dan orang kehilangan harga dirinya karena “obat-obatan, alkohol, dan ilusi kebahagiaan yang palsu.”
Kotbah itu juga membuka konferensi uskup dari seluruh Brasil yang diadakan selama dua minggu. Benediktus menyatakan: “Orang di Amerika Latin dan Karibia mempunya hak untuk hidup yang penuh, sebagai anak-anak Tuhan, dibawah syarat bahwa manusia bebas dari ancaman kelaparan dan segala bentuk kekerasan.”
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.