MANILA, Filipina (AP) - Seorang pria yang tidak ketahuan identitasnya hari Selasa menikam seorang uskup sebuah aliran Kristiani, yang juga seorang aktivis hak asasi manusia, di biaranya di utara Manila, kata polisi.
Pendukung Uskup Alberto Ramento dari Gereja Independen Filipina menyalakan lilin dan berdoa pada hari Selasa, 3 Oktober 2006 di Manila. Seorang pria yang tidak diketahui identitasnya menikam dia di tengah-tengah memuncaknya pembunuhan politis di negeri itu.
Kelompok-kelompok garis kiri mengecam pembunuhan Alberto Ramento dari Gereja Independen Filipina di propinsi Tarlac sebagai serangan terbaru dari rangkaian pembunuhan politis di negeri itu.
Kepala polisi Tarlac, Senior Superintendent Nicanor Bartolome, mengatakan seorang pembantu menemukan tubuh Ramento yang berdarah di lantai dua biara. Investigator menemukan dompetnya yang kosong di dekat tubuhnya dan staf biara memeriksa kalau ada barang-barang yang dicuri dari gedung itu, kata Bartolome.
Deputi Dirjen Polisi Avelino Razon, yang mengepalai tim kepolisian yang melacak serangkaian pembunuhan aktivis dan jurnalis mengatakan polisi akan mencari semua motif yang memungkinkan atas pembunuhan Ramento, termasuk perampokan.
Ramento, 69, juga adalah pemimpin propinsi kelompok hak asasi manusia setempat Karapatan. Ia pernah menerima ancaman-ancaman mati dari orang yang dipercayai elemen militer, kata Karapatan dalam sebuah pernyataan.
"Kami mencela dan mengekspresikan kemarahan kami atas pembunuhan bengis pembela perdamaian dan hak asasi manusia ini," kata deputi sekjen Karapatan Jigs Clamor.
Aliansi garis kiri Bayan mengatakan Ramento telah menentang pembunuhan ekstra yudisial dibawah administrasi Presiden Gloria Macapagal Arroyo.
Rep. Satur Ocampo, presiden partai politik Bayan Muna, memberikan penghormatan kepada pria yang ia kenang mendukung hak asasi manusia, kebebasan sipil dan good governance.
Ia menyalahkan pemerintahan Arroyo untuk kegagalan menghentikan pembunuhan politis dan minta diadakan investigasi mendalam yang jujur.
Karapatan mengatakan setidaknya 763 orang, termasuk 320 aktivis garis kiri, telah dibunuh sejak Arroyo mengambil kekuasaan pada 2001.
Amnesti Internasional di London mengatakan setidaknya ada 51 pembunuhan politis pada enam bulan pertama tahun ini, dibanding 66 di keseluruhan tahun 2005.
Razon mengatakan timnya telah mengurangi jumlah tersangka pembunuhan politis menjadi 110 sejak 2001. Tim itu dikatakan telah memecahkan 21 kasus pembunuhan aktivis dan jurnalis garis kiri dan menangkap 12 tersangka sejak Arroyo memberikan deadline 10 minggu untuk mengadili setidaknya beberapa pelaku kejahatan. Deadline itu kadaluwarsa Sabtu lalu.
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.