Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Menyiapkan Kaum Injili Hadapi Globalisasi


Posted: Aug. 24, 2008 22:28:08 WIB
menyiapkan-kaum-injili-hadapi-globalisasi

Pdt. DR. Nus Reimas (Ketua Umum Pengurus Pusat PGLII)

Globalisasi tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Kehadirannya kerap disebut orang sebagai era ketidakpastian. Artinya, perubahan-perubahan terus berjalan cepat. Banyak orang menghendaki perubahan, tapi tidak siap menghadapi perubahan.

Dalam hal ini, gereja-gereja harus mempersiapkan warganya untuk berdiri kokoh dalam menghadapi realita. Dampak dari globalisasi itu sendiri, warga gereja harus punya iman yang kokoh di dalam Tuhan dan mengerti bagaimana dia hidup sebagai orang percaya di tengah-tengah masyarakat.

Salah satu persoalan terbesar adalah bagaimana orang Kristen mengimplementasikan keyakinan dalam kenyataan tiap-tiap hari. Semua orang di gereja beriman, tapi bagaimana iman itu nyata dalam keseharian, itu yang terkadang sulit. Bagaimana ketika ada kenyataan pahit, misal, harga-harga naik, perusahaan bangkrut, keadaan sosial politik yang tidak menentu dan sebagainya, orang percaya tetap eksis. Keyakinan harus menjadi dasar pada semua aktivitas kehidupan, sikap dan tingkah laku.

Hadapi Masalah

Semua orang akan menghadapi masalah. Tapi bila ada sesuatu yang berbeda karena keyakinan dan nilai-nilai Injili dalam diri kita, maka orang akan melihatnya berbeda. Peran pembinaan kepada warga gereja harus sungguh-sungguh dilakukan oleh para hamba Tuhan.

Globalisasi tidak melulu bicara hal negatif. Ada sisi positif dari globalisasi, yakni penyebaran informasi yang begitu cepat yang mendorong orang bisa belajar dengan cepat. Semua orang jadi punya kesempatan dan peluang. Tapi kita juga harus siap menghadapi begitu cepatnya perubahan. Kita juga perlu diperlengkapi dengan filterisasi yang baik. Kalau tidak, kita bisa jadi bak sampah.

Untuk itu dibutuhkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Jadi, gereja tidak hanya sekedar perkumpulan orang-orang, tapi benar-benar ada suatu tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabkan. Para hamba Tuhan harus memikirkan strategi untuk pembinaan dan pendewasaan warganya. Pendidikan harus dibarengi dengan moral yang baik.

Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) dalam Kongres ke-IX, 3-6 Oktober 2006, menetapkan tema ¡§Kebenaran Meninggikan Derajat Bangsa¡¨ mengisyaratkan bahwa kita harus benar-benar aware terhadap masalah moral, yang kalau tidak baik bisa menghancurkan bangsa. Itu menjadi tanggung jawab pemimpin-pemimpin agama. Orang Kristen harus mempersiapkan diri secara moral dan intelektual, sehingga orang lain bisa melihat bahwa kita berkualitas.

Panggilan Ilahi

Masing-masing kira harus memahami, dimana kita bekerja dan ditempatkan itu bukan karena sekedar kepercayaan dari manusia, tapi karena diutus Tuhan. Banyak contoh-contoh dalam Alkitab yang menggambarkan betapa meski ditengah ketidakberesan, bika kita punya iman teguh, maka kita tetap tampil beda. Semua orang percaya harus berani berkata seperti Yusuf katakan, ¡¥Bagaimana mungkin aku berdosa terhadap Allah¡¦. Yusuf berani berkata demikian karena punya moral dan iman yang baik.

Kaum Injili harus menyadari, kita ada di tengah-tengah masyarakat dengan mindset yang jelas. Pertanyaan kita seperti ditulis Rick Warren dalam bukunya Purpose Driven Life, Untuk apa saya ada? Jawabannya, untuk memuliakan Tuhan.

Bagi para hamba Tuhan harus kembali pada panggilan Tuhan. Jadi bukan sekedar melayani untuk cari makan, melainkan memperlengkapi diri untuk menjadi direct setter (penentu arah) dan change of agent (agen perubahan). Tentunya perubahan ke arah yang lebih baik, yakni Kristus dan firman-Nya yang tidak pernah berubah. Ċ

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu

seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Kolose 3 : 23

Pdt. DR. Nus Reimas

(Ketua Umum Pengurus Pusat PGLII)

Next Story : Mesir Keluarkan Keputusan Melarang Diskriminasi

More news in church

Pembangunan Gereja di Cirebon Diprotes Warga

Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.

Terpopuler

Headlines Hari ini