Bunga dari Ratu Elizabeth II untuk William Wilberforce di 'makamnya' di Westminster-Abbey. (ACNS/Jim Rosenthal)
Pengagum tokoh abolisionis abad ke-18 William Wilberforce mengenang dirinya hari Senin - ulang tahun ke 250 kelahirannya - dengan merenungkan hidupnya dan membawa seruan tokoh negara Inggris itu untuk mengakhiri perbudakan.
Di Museum Rumah Wilberforce di Hull, Yorkshire, tempat Wilberforce lahir, diadakan suatu seremoni untuk merayakan kehidupan Wilberforce dan dimulai dengan pidatonya yang paling terkenal, yang memproklamirkan perdagangan budak sebagai "perdagangan menjijikkan."
"Aku tidak akan beristirahat sampai aku dapat mempengaruhi penghapusannya," seru aktor Chris Cade yang lahir di Hull - lahir aktor saat menyuarakan kembali pidato Wilberforce, Senin lalu, menurut koran lokal.
Walaupun Wilberforce filantropis yang produktif, menetapkan 69 filantropi selama masa hidupnya, ia paling dikenal karena memimpin 18 tahun perjuangan untuk menghapus perdagangan budak di Kekaisaran Inggris, yang secara resmi berakhir pada tahun 1807 di Inggris dan 1808 di Amerika Serikat.
Dia juga menjadi ujung tombak upaya untuk mendirikan pendidikan bagi anak-anak miskin, hukum buruh anak, reformasi penjara, masyarakat pertama yang mencegah kekejaman terhadap binatang, Lembaga Alkitab, dan wajib inokulasi cacar, diantara banyak lainnya.
"Berbicara mengenai Wilberforce adalah berbicara mengenai pandangan biblikal saat beraksi," komentar tokoh injili A.S Chuck Colson, yang berkata warisan Wilberforce "begitu dalam membentuk" hidupnya.
"Dia tidak bisa berdiam diri begitu saja dan melihat imago Dei setiap orang, gambar Allah, disalahgunakan. Perangnya yang tidak populer terhadap perdagangan budak menghancurkan kesehatannya dan mempertaruhkan karirnya dalam politik," kenang Colson.
Bahkan ketika posisinya yang tidak populer hanya menjadi semakin berbahaya setelah Revolusi Perancis dimulai, Wilberforce bertahan dari tahun ke tahun.
"Dia melakukan hal luar biasa," kata Perwakilan Hessle dan Hull Barat Alan Johnson mengatakan kepada Hull Daily Mail.
Akan tetapi, khususnya saat Wilberforce mungkin telah membantu mengakhiri perdagangan budak Inggris, perbudakan masih ada hingga sekarang dalam berbagai bentuk.
Menurut perkiraan tahun 2005 dari Organisasi Buruh Internasional (ILO), terdapat sedikitnya 12,3 juta orang di dunia saat ini yang dipaksa untuk bekerja di luar kehendak mereka di bawah ancaman beberapa bentuk hukuman. Bahkan di Inggris Raya, ribuan terjebak dalam prostitusi atau dipaksa bekerja tanpa dibayar di pertanian, pabrik dan rumah, termasuk setidaknya 5.000 pekerja seks anak, menurut Joseph Rowntree Foundation.
"[Sementara] perbudakan adalah masalah yang sangat berbeda hari ini, perbudakan masih ada," kata Johnson.
Pada hari Senin, 100.000 tanda tangan ditambahkan ke dalam sebuah petisi yang dimulai warga Hull untuk menghentikan perbudakan, termasuk buruh anak, pelacuran paksa dan perdagangan manusia.
Petisi yang diluncurkan pada September 2007 untuk menandai peringatan dua abad dari berlalunya Penghapusan Perdagangan Budak itu, telah diedarkan ke orang-orang di berbagai pelosok dunia.
Di dalamnya, penandatangan "mendesak pemerintah dan badan-badan internasional untuk bekerja sama untuk lebih memahami Perdagangan Budak Trans Atlantik, menyatakan dampaknya kepada negara dan masyarakat di seluruh dunia, dan bekerja untuk mengakhiri perbudakan untuk selama-lamanya."
Petisi itu telah menarik dukungan dari sejumlah tokoh termasuk juru kampanye hak-hak sipil A.S Jesse Jackson dan Uskup Desmond Tutu.
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.