Saat orang-orang Kristiani pada abad ke-21 mendekati pengajaran rasul Paulus menyangkut istri yang harus tunduk kepada suaminya (Efesus 5:22) dan wanita harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat (I Kor 14:34), mereka harus mengingatkan diri mereka sendiri bahwa pengajaran Paulus sama kontoversialnya di abad pertama seperti pada masa sekarang.
Dunia alkitabiah abad pertama dari Yudaisme dan kebudayaan Greko-Roma dicirikan dengan dominasi pria dan cauvinisme. Tapi pada abad ke-21 kebudayaan Amerika Utara dan Eropa di dominasi oleh politik yang membenarkan persamaan hak pria dan wanita, yang menolak untuk menerima semua perbedaan antara pria dan wanita.
Sebagai contoh, saat Rasul Paulus menulis surat kepada gereja di Efesus, ia mengatakan kepada semua Kristiani (tanpa memadang etnik, status sosial, ataupun jenis kelamin, Gal 3:18) dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. (Efesus 5:21). Lalu, awal dari Efesus 5:22, ia menjelaskan secara terperinci bagaimana kepatuhan dan hati dari seorang hamba dinyatakan didalam pernikahan.
Di dalam budaya dimana seorang istri dianggap sebagai harta benda dari suaminya, Paulus memerintahkan suami Kristiani untuk mengasihi istri mereka sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan untuk memenuhi tanggung jawab yang telah diberikan oleh AllahNya untuk melindungi, menyediakan bagi, dan memimpin keluarganya dalam sikap yang saleh. Bagaimanakah Kristus mengasihi jemaat? Dengan kasih agape - kata Yunani untuk kasih rohani - yang Ia contohkan dengan memberikan nyawaNya bagi jemaat.
Ini adalah kasih agape yang mengubah pandangan dunia atas kepatuhan dari kekuasaan dan penghormatan berlebihan kepada kerendahan hati dan pelayanan.
Dalam tulisannya kepada Jemaat Korintus, Paulus menulis tulisan tentang Keilahian yang amat menginspirasi pada kasih agape ini yang mana meminta para suami untuk mengasihi istri mereka: " Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.Kasih tidak berkesudahan" (I Kor 13:4-8).
Istri diharapkan untuk menyatakan kepatuhannya dalam pernikahan dengan menyerahkan dirinya kepada suaminya "sama seperti kepada Tuhan" (Efe 5:22). Tidak ada tanda dalam bagian ini atau dalam bagian-bagian lain yang mengatakan bahwa wanita dalam segala hal lebih rendah daripada pria, walaupun itu adalah saat yang didenominasi oleh tradisi kebudayaan dan para rabi. Para pria abad pertama yang menerima surat Paulus kepada jemaat di Efesus pastilah amat terkejut oleh perintah yang baru dan yang menuntut dikorbankannya tempat mereka.
Saat Rasul Paulus mengubah perhatiannya kepada prilaku wanita di gereja, sekali lagi ia membicarakan masalah yang ada dalam konteks catatan penciptaan di Kejadian, yang dengan jelas mengajarkan bahwa pria dan wanita adalah sederajat dan berharga di mata Sang Pencipta (Kejadian 1:26-27).
Dua pesan (I Kor 11:2-16 dan I Kor 14:34-36) menyangkut peranan wanita yang tepat dalam ibadah telah menjadi sumber dari banyak kontroversi di decade belakangan ini. Dalam bagian yang pertama, Paulus menghadapi sejumlah besar kesewenang-wenangan di dalam ibadah dan masalah kesopan-santunan di gereja Korintus. Dalam I Kor 11, Paulus memberikan wanita kebebasan didalam berbicara atau berdoa dalam ibadah, selama mereka bertudung atau menutupi kepala mereka (11:5). Tidak bertudung adalah menghina ay4-5),penghinaan(ay 6,14),ketidakpatutan(ay 13), dan membantah(ay16).
Saat amanat mengenai bagaimana sesuatu dilakukan di gereja memiliki konteks budaya, kebutuhan pada catatan penciptaan sebagai dasar memerlukan penerapan yang melampaui keanekaragaman budaya. Seorang wanita yang berbicara atau berdoa dengan kepala tidak bertudung di Korintus adalah sama dengan wanita yang bernubuat dan berdoa memakai pakaian you can see di gereja pada zaman ini. Prinsip doktrin yang terletak disini adalah bahwa saat wanita berdoa atau berbicara, dia harus melakukannya dengan kerendahan hati, kesalehan dan rasa hormat kepada suaminya.
Di 1 Kor 14:34-36, Paulus menyatakan bahwa wanita harus diam di gereja, yang pertamanya sekilas berkontradiksi dengan pengajaran dimana wanita boleh berdoa dan bernubuat (1 Kor 11:5). Akan tetapi, disini konteks juga adalah kuncinya. Penekanan Paulus dalam pasal 14 dapat ditemukan di ayat terakhir dari pasal, yang menyatakan bahwa segala sesuatu 'harus dilakukan dengan sopan dan teratur'(ay 40).
Di dalam konteks ini, Paulus berhadapan dengan kesulitan-kesulitan khusus dari beberapa anggota gereja Korintus wanita yang mengganggu ibadah dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pada waktunya dan lainnya. Beberapa dari anggota gereja ini secara terbuka berdebat dengan pria dan menuntut kebebasan mereka untuk berbicara di ibadah umum, hal ini membawa aib bagi gereja, terhadap Allah, dan seluruh komunitas di Korintus (cf. R. C. Prohl, Women in the Church. Grand Rapids: Eerdmans, 1957, pp. 27-28).
Sekali lagi, tuntutan dari hukum Taurat (ay34) membuat perintah untuk kepatuhan wanita dalam normatif gereja, bukan semata-mata budaya atau kebiasaan. Ibadah gereja harus teratur, dan wanita harus patuh terhadap suami mereka. Sama dengan bagian dalam 1 Kor 11, bukannya kepala yang bertudung atau diam, tetapi kerendahan hati dan kepatuhan, adalah pengajaran kerasulan yang sebenarnya.
Bagian terakhir dimana Paulus berhadapan dengan peran wanita di gereja adalah dalam 1 Timo 2:11-15. Sekali lagi, konteks dari pengajaran adalah penting. 1 Timotius 3:15, yang menyatakan bahwa pasal dua dan tiga memerintahkan tentang bagaimana seharusnya orang-orang membawa diri mereka di dalam rumah tangga Allah, yang adalah gereja dari Allah yang hidup,menyediakan konteks dari pesan: Didalam gereja, wanita tidak memegang kuasa yang melebihi pria, sama seperti seorang istri menaruh dirinya sendiri dibawah kuasa suaminya di dalam pernikahannya.
Pengajaran ini tidak mengatakan bahwa semua wanita harus berada di bawah kuasa semua pria dan di dalam semua institusi, tapi daripada itu wanita harus patuh kepada suami mereka dan tidak berada dalam posisi yang berwenang di gereja setempat. Sekali lagi, acuan pada catatan Penciptaan membuat hal ini menjadi pengajaran teologi normatif, bukan budaya. Oleh karena tugas pengembalaan adalah posisi dari kewenangan (Ibrani 13:7,17), hal ini akan menghalangi seorang wanita dari pelayanan sebagai imam di gereja setempat, tapi sikap diam tidaklah diperlukan.
Sebagai kesimpulannya, pengajaran Rasul Paulus sama kotroversialnya dalam menantang prasangka abad pertama melawan wanita sama seperti menantang prasangka abda-21 melawan semua pengajaran yang memuja pada kebenaran mezbah dan politik. Rasul Paulus, dan Alkitab secara umumnya, mengajarkan kesamaan antar jenis kelamin yang diungkapkan lewat cara bagaimana mereka saling melengkapi (Kej 2:18-25) satu sama lain, saat dibandingkan pada kenetralan gender yang akan mengapuskan perbedaan peranan pria dan wanita.
Kita semua harus mengingat bahwa ada banyak jenis kepatuhan. Ada kepatuhan pada kewenangan Ilahi dari Alkitab, dan kemudian ada kepatuhan pada tekanan yang diserap dari budaya sekuler yang menolak kewenangan Kitab Suci saat menemukan dirinya dalam ketidaksetujuan dengan pengajaran Alkitab. Allah berwahyu kepada Paulus untuk memperingatkan para Kristiani: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2)
Sumber asli: Beliefnet
Ratusan warga di Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menolak pembangunan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pekiringan dan kegiatan kebaktian yang dilaksanakan jemaat di gereja tersebut, Minggu.