Hot Topics » Pakistan Swat valley Sri Lanka conflict Abortion Barack Obama India Lausanne Movement

Kristen dan Islam di Asia dalam Perspektif Sejarah


Posted: Mar. 01, 2006 01:50:24 WIB

Heboh gambar kartun Nabi Muhammad SAW yang dimuat media Jylland Posten di Denmark, September 2005, telah menyulut kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Permintaan maaf dan pengunduran diri pemimpin redaksi tidak mampu mengurangi kemarahan umat Islam.

Kebebasan pers di luar batas yang dianut oleh masyarakat Barat belum bisa diterima oleh umat Islam maupun masyarakat Timur pada umumnya. Membuat gambar Nabi Muhammad SAW saja sudah merupakan hal yang tidak bisa diterima oleh umat Islam, apalagi membuat kartun yang memberi kesan sangat menghina.

Kasus kartun itu menjadi pemicu dari setumpuk luka hati akibat ketidakpuasan politik dan ekonomi yang dialami oleh umat Islam dalam sejarah. Umat Islam masih menyimpan luka sejarah berabad-abad karena mereka sering menjadi korban kekuatan di luar wilayah mereka. Seperti invasi Amerika ke Irak, kejadian di penjara Abu Ghraib, standar ganda Eropa soal nuklir Iran, dukungan Barat yang membabi buta pada Israel, sampai dengan pemerasan terhadap kelompok Hamas yang telah memenangkan pemilu secara demokratis.

Salah Persepsi

Sering terjadi salah persepsi umat Islam maupun Kristen tentang kehadiran agama Kristen di benua Asia. Menurut MD David, "Imperialis Barat menjadi batu sandungan dari perkembangan Kristen di Asia". Kekristenan telah menjadi "Western brand - Greco-Roman" dalam struktur dan budaya sejak Kaisar Konstantinus Agung.

Agama Kristen bagaikan cokelat yang tumbuh di Asia dan Afrika, tapi konsumen lebih mengenal cokelat Belgia dan Swiss. Baik agama Islam maupun Kristen, keduanya merupakan agama yang lahir di Asia Barat dan dunia Arab.

Pada abad ketiga, sudah ada sekolah teologi di Edessa, Iran, dan sekolah kedokteran di Nestorian Beth Lapat, sebelum sekolah teologi dan kedokteran berkembang di Eropa. Tapi sayang, politik orang Kristen Nestorian dianggap bidah/ajaran sesat. Orang Nestorian menjadi korban dari Kristen Barat dan pemeluk agama setempat di Asia.

Dalam delapan abad pertama setelah tahun Masehi, penyebaran agama Kristen banyak dilakukan oleh orang Nestorian dari Asia Barat, yaitu Irak, Suriah, Lebanon, dan Iran, bukan orang Eropa. Tak ada konflik agama berarti antara pengikut Nestorian dengan pemeluk agama di Asia.

Para pedagang atau pelancong dari Asia Barat ini menyebarkan agama Kristen sampai ke Sumatera, Jepang, India, Tiongkok, dan Sri Lanka, jauh sebelum ada badan misi Eropa. Walaupun Kerajaan Islam di Asia Barat tidak memperkenankan penduduknya untuk pindah agama, tapi pada umumnya hubungan Kristen dan Islam penuh kedamaian dan agama Kristen masih bisa berkembang.

John C England dalam buku The Hidden History of Christianity in Asia me- nulis,"Many Christian in the following centuries held positions of leadership, in both church and Caliphate, or in medicine or scholarship would come from this small kingdom and from Ghassan, the Christian Arab kingdom adjoining Syria and vassal to Byzantium"

Gereja Anglikan telah mengakui kesalahan masa lalunya karena mereka mendukung Perang Salib. Perang itu tidak harus dilihat sebagai perang agama. Perang salib merupakan ambisi Eropa dalam politik, kebudayaan, dan ekonomi dengan menggunakan sentimen dan pembenaran agama. Pelayaran Columbus dan Vasco da Gama untuk mencari rempah-rempah ke Asia Timur disusul dengan Reformasi Luther menghasilkan daerah koloni Eropa di Benua Amerika, Asia, Afrika, dan Australia.

Cheng Yang En dari Tai-wan menggambarkan abad ke-19 tentang penyebaran agama Kristen sebagai berikut: ìThe 19th Century perception of Overseas Missions: primarily sponsored by so-called 'denominational' and 'inter-denominational' mission societies or agents; often implemented with an enterprising, triumphalist, conqueror's mindset".

Penyebaran agama Kristen oleh badan misi setelah pelayaran Columbus dan Vasco da Gama telah tumpang- tindih dengan kepentingan kerajaan Eropa untuk menguasai wilayah dan ekonomi serta pengaruh politik. Apakah yang terjadi institusi agama menjalankan "God's mission" atau "denomination/ empire expansion"? Hal ini memerlukan perdebatan lebih mendalam di kalangan akademisi dan agamawan.

Kalau God's Mission dan Pekabaran Injil berisi "berita baik", apakah kehadiran Columbus dan Vasco da Gama dan pelayaran berikutnya memberikan "berita baik" bagi native American, Africa, Aborigin, dan Maori? Atau sebaliknya penduduk setempat menerima "kabar buruk" dengan kedatangan Columbus dan orang-orang sesudahnya?

Selanjutnya bapa gereja dari Sri Lanka DT Niles pernah menulis, "Christianity in Asia is a potted plan invites serious inquiry into the nature and function of missions. ... Thus the appeal of Christian faith failed to assume the character of good news; instead it is perceived as a veiled ideology used for cultural invasion upon the respective ways of life in these nations."

Invasi kebudayaan dan ekonomi serta territory conquest, itulah yang terjadi sesudah kedatangan Columbus ke seluruh penjuru dunia. Agama dan budaya setempat termasuk Islam merupakan bagian wilayah perlawanan (resistant) terakhir dari penduduk setempat melawan invasi dari luar ketika perlawanan ekonomi dan politik sudah runtuh. Akibat adanya cultural invasion dari Barat dan cultural resistant dari Timur maka prasangka budaya dan agama terjadi dalam hubungan antarbangsa dan agama.

Dampak Globalisasi

Banyak pemikir memandang bahwa keinginan menguasai (conquest/ invasion) negara kolonial belum berakhir setelah kemerdekaan bangsa terjajah. Bung Karno pernah menyitirnya dalam Konferensi Asia Afrika Bandung dengan istilah "coloni-alism with new dress".

Aspek globalisasi bukan sekadar ekonomi pasar bebas dan economic expansion, tapi juga technology control dan cultural invasion. Globali- sasi juga membawa dimensi apartheid, racism, kekerasan, penghancuran ekologi, militarism dan perang teror. Dan, cultural invasion dilakukan melalui media dan teknologi informasi (CNN dan Fox) secara terselubung atau dengan cara intervensi dan kekerasan (di Irak).

Kebebasan mengemukakan pendapat dan pemaksaan cultural value seperti demokrasi dan HAM tanpa melalui proses alami dan dialog, berakibat seperti yang kita saksikan di Irak dan peristiwa kartun. Banyak pihak tidak dapat menerima ketika demokrasi dan HAM diperalat oleh Barat untuk menghukum sebuah negara dan rezim yang berbeda pandangan dengan Barat.

Perlawanan beberapa kelompok resisten terhadap cultural and economic invasion Barat sering berdampak pada perlawanan kelompok non-Kristen terhadap orang Kristen setempat. Perlawanan terjadi karena kelompok non-Kristen merasa kesal menyaksikan Barat (Amerika) memperalat demokrasi, HAM, traktat senjata nuklir, perang teror untuk kepen-tingan empire hegemony dan menguasai sumber alam dunia.

Di sinilah peran Kristen dan Islam di Asia untuk meluruskan persepsi yang salah. Cross cultural ministry perlu dilakukan dengan hati-hati agar tak ada gejolak dan konflik budaya dan agama. Dialogue of civilization untuk meredakan ketegangan hanya akan bermanfaat bila economic, politic and cultural hegemony suatu peradaban atas peradaban lain, bisa dihapuskan. Masalahnya, bagaimana dan apakah Barat bersedia re-maping just new world order?

Sungguh menarik, kalau kita membandingkan pelayaran Zhenghe (1421) yang Muslim dari Kekaisaran Ming Tiongkok, dengan pelayaran Columbus (1492) yang Kristen dari Spanyol. Columbus berangkat dengan diiringi doa Kristen. Sedangkan Zhenghe berangkat dengan diiringi doa dari agama Kerajaan Ming (Buddha dan Chinese), dan Islam agama dari Zhenghe.

Muhibah Zhenghe meninggalkan kesan persahabatan, sedangkan pelayaran Columbus dan ekspedisi berikutnya meninggalkan kesan cultural genocide/ invasion dan conquest wilayah. Bisa diperdebatkan, siapa yang sebenarnya membawakan kabar baik atau God's mission kepada penduduk yang dikunjunginya? Columbus atau Zhenghe? Zhenghe mewakili soft power culture approach sedangkan Columbus mewakili hard power culture approach.

Tidak salah kalau umat Kristen dan Islam di Asia, khususnya Indonesia, belajar dari diplomasi Zhenghe (soft power) dalam menanggapi masalah kartun, ekonomi, dan cultural invasion di era globalisasi, bukan diplomasi Columbus (hard power). Kalau tidak, martabat dan peradaban Kristen dan Islam di Asia, tidak akan berbeda dengan peradaban yang menekankan kekerasan dan hard power culture.

Menjunjung tinggi soft power culture dalam mentransformasikan dunia yang penuh konflik dan ketidakadilan, merupakan panggilan umat Kristen dan Islam di Asia dan dunia. Mengapa tidak? *

*Penulis adalah pengamat masalah internasional.

Sumber: Suara Pembaruan

Next Story : Apa Yang Sebaiknya Pendeta Pikirkan Tentang Menikahkan Bukan Kristiani?

Terpopuler

Headlines Hari ini